DetikNews
Senin 25 Maret 2019, 17:27 WIB

Warga Kembali Tutup Area TPST Piyungan Bantul

Pradito Rida Pertana - detikNews
Warga Kembali Tutup Area TPST Piyungan Bantul Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Bantul - Warga Dusun Ngablak, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul kembali menutup akses ke Tempat Pengelolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul. Hal itu karena sebagian tuntutan warga belum dipenuhi Pemerintah Provinsi DIY.

Pantauan detikcom di kawasan TPST Piyungan pukul 15.00 WIB, tidak tampak adanya truk pembawa muatan sampah yang masuk ke dalam TPST. Selain itu, jalan menuju TPST juga tampak lengang, hanya ada beberapa warga tengah duduk dan berdiri di pinggir jalan tersebut.

Kendati demikian, aktivitas pengolahan sampah di TPST tersebut tetap berlangsung. Hal itu dibuktikan dengan beberapa alat berat yang tengah mengeruk sampah di dermaga sampah TPST, tak hanya itu saja, beberapa orang tampak sedang memilah sampah-sampah yang berada di dermaga tersebut.

Ketua Komunitas Pemulung di TPST Piyungan, Bantul, Maryono mengatakan penutupan akses menuju TPST sudah dilakukan warga sejak kemarin, Minggu (24/3/2019). Menurut Maryono, hal itu karena tempat pembuangan sampah telah melebihi kapasitas dan membuat antrian panjang truk sampah di sepanjang jalan menuju TPST.

"(TPST Piyungan) ditutup karena tempat pembuangan sampah di dermaga sudah sempit dan tidak layak lagi digunakan untuk pembuangan (sampah). Terus karena banyak sampah menumpuk membuat antrean satu setengah kilometer kemarin, kan mengganggu akses warga sekitar," ujarnya saat ditemui di area TPST Piyungan, Bantul, Senin (25/3/2019).
Warga Kembali Tutup Area TPST Piyungan BantulFoto: Pradito Rida Pertana/detikcom

"Jadi (truk sampah) belum boleh masuk lagi untuk membuang sampah di dermaga," imbuh Maryono.

Lanjut Maryono, aksi kali ini merupakan aksi kedua yang dilakukan oleh warga. Mengingat pada tanggal 31 Desember 2018 warga sempat menutup akses jalan menuju area TPST karena permasalahan yang sama.

"Tuntutan warga masih sama, pertama dermaga dikondisikan agar tidak terjadi antrian panjang truk saat membuang sampah. Kedua, untuk jalan agar dibenahi, dalam artian masak mau sekolah anak-anak harus membungkus sepatunya pakai tas kresek, ketiga, tolong dibuat saluran drainase agar limbah sampah tidak masuk ke pemukiman warga," ucapnya.

"Keempat kami minta kompensasi per KK yang terkena dampak langsung terkait pembuangan sampah ini, dan kelima kami minta dari bawah (jembatan timbangan) sampai dermaga (TPST Piyungan) diberi penerangan," sambung Maryono.

Akan tetapi, kata Maryono hingga kini baru sebagian tuntutan yang dipenuhi seperti penerangan jalan. Sedangkan lainnya belum dipenuhi, padahal dari Pemerintah sudah datang ke TPST dan menjanjikan akan segera memenuhi tuntutan warga.

"Awal (bulan) Januari memang dibuka lagi karena beberapa tuntutan warga telah dipenuhi oleh Pemerintah provinsi DIY. Tapi untuk drainase dan kompensasi per KK belum, (pengerasan) jalan juga belum, padahal setelah dibuka kemarin itu (bulan Januari) katanya 1-2 minggu sudah mau dikerasi (jalannya) tapi sampai saat ini belum," ucap Maryono.

Karena itu, Maryono berharap Pemerintah segera tanggap dan mereleasikan janji-janjinya. Mengingat TPST yang berdiri sejak tahun 1996 ini sudah tidak mampu lagi menampung sampah, terlebih saat hujan sampah-sampah membeludak ke pinggir jalan.

"Dampak dari pengelolaan TPST yang kurang ini membuat 5 RT terdampak, karena itu mohon diperluas dulu dermaga (pembuangan sampah di TPST), kan masih bisa itu diperluas," katanya.

Terkait hingga kapan truk sampah tidak boleh masuk ke TPST Piyungan, Maryono menuturkan bahwa warga tidak memberi batasan waktu.

"Ya pokoknya kalau sudah ready (diperluas dan dibangun) dermaga dan drainase langsung buka lagi," pungkasnya.

(bgk/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed