DetikNews
Sabtu 16 Maret 2019, 10:05 WIB

Mengintip Caleg yang Datangi Makam Keramat di Kudus Malam-malam

Akrom Hazami - detikNews
Mengintip Caleg yang Datangi Makam Keramat di Kudus Malam-malam Aktivitas caleg saat mendatangi makam yang dianggap keramat di Kudus. Foto: Akrom Hazami/detikcom
Kudus - Aksi caleg mendatangi tempat keramat, dan dianggap sakral juga terjadi di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Lokasi yang jauh di perbukitan Muria, serta tanpa penerangan memadai, tak menyurutkan niat mereka.

Pantauan detikcom, pada Jumat (15/3/2019) petang hingga malam, di salah satu makam Syekh Sadzali Rejenu Kudus, lokasinya hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki atau kendaraan roda dua. Makam ini terletak di perbukitan Muria di Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kudus.

Medan ke lokasi tak memungkinkan dijangkau kendaraan roda empat. Ditambah lagi, jalan yang berkelok serta naik turun, mewajibkan calon peziarah ekstra hati-hati. Belantara dan sunyi. Sejumlah warga sekali-kali melintas membawa kayu pohon atau hasil alam lainnya.

Beberapa rombongan yang mengaku mengantar seorang caleg juga tampak di lokasi. Seorang caleg mengenakan pakaian warna serba hitam dengan peci hitam berada di antara mereka. Diketahui, caleg ini adalah Darus Achroni dari Partai Golkar DPRD Kabupaten.


Darus mengatakan dia datang ke makam untuk ziarah dengan tujuan apa yang dicitakan akan tercapai.

"Ziarah ke makam, terus berdoalah. Mudah-mudahan apa yang saya cita-citakan itu tercapai," kata dia usai ziarah di warung depan tempat ziarah.

Menurut dia, semua hal merupakan kehendak Allah SWT. Hanya manusia wajib berusaha dan berdoa. "Hasil akhir saya serahkan kepada Allah SWT," ucapnya.

Dia mengemukakan alasannya datang ke makam serta ke sejumlah tempat seperti di makam kampung. "Makam kampung juga. Leluhurlah," sambungnya.

Dia memilih ke makam di lokasi itu karena ingin merasakan kesakralan lokasi tersebut.


"Saya kepingin kesakralannya. Pingin menenangkan diri, pingin berdoa, ya untuk mengadapi pileg tahun 2019," kata dia.

Soal nanti di pileg berhasil atau tidak, Darus mengaku siap menghadapi pesta demokrasi tersebut.

"Menang atau tidak, saya siap menghadapi," ujarnya.

Darus mendatangi makam Syekh Sadzali bersama pemandu bernama Puryanto. Dalam gelap karena tak ada penerangan, mereka khusyuk. Hujan deras yang tiba-tiba turun membuat kekhidmatan doa pun tercipta. Bacaan doa yang terucap menggunakan Bahasa Arab hingga Bahasa Jawa mereka lakukan selama sekitar 20 menit.

Suara belantara bercampur hujan tetap mengalun saat doa diakhiri dengan bacaan surat Alfatihah. Tangga berbahan batu sebagai akses ke makam juga sudah basah. Darus dan Puryanto kembali. Mereka berteduh ke satu warung penjaja kopi dan aneka jajanan ringan.

"Akeh (caleg) seng rene terutama minggu ambi jumat (Banyak yang datang terutama minggu dan jumat). Nganter ziarah. Nek ana urusan pribadi, yo pribadine masing-masing. Meh mben dino (hampir setiap hari). Mbengi iso nem, tek (malam bisa sampai enam). Nek sedino sewengi ana ping rolas (kalau sehari semalam bisa 12 orang). Tadi yo nganter," kata Puryanto.

"Harapan doa, nek donga, yo dongakno ahli kubur. Nek penjalukan (permintaan), yo pribadi-pribadi. Yen aku yo donga (doa) nyuwun ke Gusti Allah (Harapan, doa. kalau berdoa ya mendoakan ahli kubur. Kalau permintaan, ya pribadi-pribadi. Kalau saya ya berdoa meminta ke Gusti Allah)," kata dia.

Subandi, pendamping caleg Darus, menambahkan, menjelang pileg kebetulan ada teman yang nyaleg.

"Alhamdulilah bisa bersilaturahim dan bisa sowan ke makam Syekh Sadzali dan petilasan yang dulu pernah disinggahi oleh Syekh Subakir," kata dia.

"Kalau kita ke sini hanya mencari wasilah sama auliya ilah. Kita berdoa di sini karena di sini ada walinya Allah, insya Allah kalau kita berdoa bersama walinya Allah, insya Allah akan dikabulkan doa kita. Itu aja. Allah yang mengabulkan," katanya.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed