DetikNews
Jumat 15 Maret 2019, 15:34 WIB

Banyak Caleg ke Makam Mbah Lancing, Jika Menang Letakkan Selembar Batik

Rinto Heksantoro - detikNews
Banyak Caleg ke Makam Mbah Lancing, Jika Menang Letakkan Selembar Batik Makam Mbah Lancing di Kebumen. Foto: Rinto Heksantoro/detikcom
Kebumen - Makam Mbah Lancing di Kebumen, Jawa Tengah yang sangat dikeramatkan oleh warga, banyak didatangi peziarah tiap harinya. Tak mau ketinggalan, para caleg pun berdatangan untuk meminta doa restu agar terpilih menjadi anggota dewan pada Pemilu 2019 nanti.

Makam yang terletak di Dukuh Kauman, Desa Mirit, Kecamatan Mirit ini setiap hari selalu ramai dikunjungi peziarah. Tidak hanya warga Kebumen dan sekitarnya, namun mereka yang datang juga berasal dari Jakarta bahkan luar Jawa.

"Nggih kathah (ya banyak) yang datang dari Kebumen, Purworejo, Cilacap, Yogya, dan sekitarnya ada yang dari Jakarta dan Sumatera juga," ucap juru kunci makam, Ahmad Kamdi (80) ketika ditemui detikcom, Jumat (15/3/2019).

Karena kharismanya sebagai seorang ulama bahkan warga menyebutnya sebagai wali yang berjasa menyebarkan agama Islam di daerah Kebumen dan sekitarnya, hingga kini banyak peziarah yang datang untuk mendoakan Kiai Lancing sekaligus meminta suatu hajat.

Banyak peziarah yang percaya jika permintaan mereka akan dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa melalui perantara Mbah Lancing. Mulai dari warga biasa, caleg, pejabat bahkan calon presiden pun datang ke tempat tersebut untuk ngalap berkah.


"Kalau anak sekolah mintanya biar lulus ujian, ada yang untuk berdagang, naik pangkat atau jabatan dan para caleg juga banyak yang ke sini minta biar terpilih besok pas pemilu. Dulu sebelum jadi presiden, Pak SBY juga datang ke sini. Calon kades, bupati juga banyak yang ke sini," lanjut Ahmad Kamdi.


Makam Mbah Lancing di Kebumen.Makam Mbah Lancing di Kebumen. Foto: Rinto Heksantoro/detikcom

Jelang pemilu ini, makam mbah Lancing semakin ramai didatangi oleh para caleg. Biasanya mereka datang pada malam hari terutama pada malam Jumat.

"Tadi malam saya nemani mereka (caleg) sampai subuh. Biasanya para caleg kalau datang memang malam, kadang tengah malam. Calegnya ada yang dari Kebumen sini, Purworejo ada yang dari Jakarta juga Lampung," imbuhnya.

Sebagai ucapan terima kasih karena doa dan keinginannya tercapai, biasanya peziarah akan kembali lagi ke makam tersebut dan memberi kain batik yang diletakkan di atas pusara Mbah Lancing. Sampai saat ini sudah tidak terhitung lagi berapa lembar kain batik yang tertumpuk hingga setebal lebih dari satu meter itu.


Kain batik yang diberikan sebagai hadiah tersebut bukanlah sembarang kain batik yang bisa dibeli di pasar atau toko, melainkan batik khusus yang harus dibuat langsung oleh warga yang telah ditunjuk. Batik harus berwarna dominan hitam cokelat dan bermotif contong yang merupakan kesukaan Mbah Lancing.

Tidak ada yang tahu pasti sejak kapan makam Mbah Lancing itu ada, namun diperkirakan sudah ada sejak ratusan tahun silam. Mbah Lancing yang memiliki nama asli Kiai Baji sendiri menurut cerita merupakan keturunan dari Prabu Brawijaya V.

Makam Mbah Lancing di Kebumen.Makam Mbah Lancing di Kebumen. Foto: Rinto Heksantoro/detikcom

"Mbah Lancing itu merupakan nama panggilan dari warga sekitar pada zaman dahulu karena Mbah Baji senang memakai kain batik untuk bebedan atau celana yang disebut lancing saat kemana pun pergi," jelasnya.

Makam Mbah Lancing berdampingan dengan makam ayahnya Ketidjojo. Tepat di depan makam berdiri bangunan bergaya joglo dengan tiang dan dinding kayu berukir yang sering digunakan para peziarah untuk menggelar doa bersama.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed