Hari Lahir Kabupaten Purworejo Kini Berubah, Mengapa?

Rinto Heksantoro - detikNews
Rabu, 27 Feb 2019 16:52 WIB
Foto: Rinto Heksantoro/detikcom
Purworejo - Prasasti 'Kayu Ara Hiwang' adalah prasati yang ditemukan di Desa Boro, Banyuurip sudah sejak lama menjadi penanda hari jadi lahirnya Kabupaten Purworejo. Berdasarkan temuan prasasti itu tanggal 5 Oktober 901 Masehi ditetapkan menjadi hari lahirnya Purworejo.

Setelah ada kajian ulang hari jadi Kabupaten Purworejo berubah mulai hari ini. Tanggal 27 Februari menjadi penanda lahir Purworejo. Mengapa hari jadi Purworejo berubah atau diganti?

Berdasarkan kajian ulang berbagai ahli serta dalam Babad Kedung Kebo dan juga dalam Babad Mataram, maka kata Purworejo mulai disebut dan ada pada tanggal 27 Februari 1831. Sehingga hari lahir Kabupaten Purworejo saat ini berubah. Umur kabupaten ini tidak lagi 1.118. Sekarang umurnya jadi 188 tahun.

Dalam prasasti Kayu Ara Hiwang yang ditulis dengan menggunakan aksara Jawa kuno sebanyak 21 baris yang ditulis berkeliling dari sisi depan, samping kanan, sisi belakang dan samping kiri. Prasati tersebut ditemukan di Desa Boro Tengah (sekarang Boro Wetan), Kecamatan Banyuurip dan kini tercatat serta disimpan di Museum Nasional Jakarta dengan nomor inventaris D.78.

Kala itu, Desa Kayu Ara Hiwang wilayah Watutuhang (awal Purworejo Bagelen) ditetapkan menjadi 'Sima' (wilayah perdikan) oleh Rake Wanua Poh Dyah Sala, putra Sang Ratu Bajra yang bertanggal 5 Paro Gelap, hari Senin Warukung, bulan Asuji tahun 823 Saka atau 5 Oktober tahun 901 Masehi. Kemudian berdasarkan Perda Kabupaten Purworejo nomor 9 tahun 1994 ditetapkan menjadi Hari Jadi Kabupaten Purworejo.

Jika merunut sejarah Kayu Ara Hiwang tersebut, tahun 2019 ini seharusnya Purworejo akan memperingati hari jadi ke 1.118. Namun seiring berjalannya waktu, kajian tentang sejarah hari jadi terus dilakukan hingga akhirnya ditetapkan perubahan hari jadi.
Hari Lahir Kabuoaten Purworejo Kini Berubah, Mengapa?Foto: Rinto Heksantoro/detikcom

"Bahwa pendekatan hari jadi Purworejo menggunakan pendekatan etimologis yakni kapan awal kata Purworejo menjadi statement resmi yang disampaikan pada masyarakat. Dari catatan yang dituangkan pada babad Kedung Kebo juga dalam Babad Mataram, maka kata Purworejo disampaikan pada tanggal 27 Februari 1831. Saat itu ada beberapa peristiwa besar yang terkait dengan penetapan hari jadi," kata sejarawan Purworejo, Atas Danu Subroto saat ditemui detikcom di Gedung DPRD Purworejo, Rabu (27/2/2019).

Setelah dilakukan kajian selama sekitar 4 tahun bersama ahli sejarah dari UGM, USM, Purworejo hingga Inggris, maka lahirlah Perda Kabupaten Purworejo no 1 tahun 2019 tentang perubahan dan penetapan hari jadi. Berdasarkan perda tersebut, hari jadi Purworejo yang sebelumnya jatuh pada 5 Oktober 901 berubah dan ditetapkan menjadi tanggal 27 Februari 1831.

"KRT Tjakradjaja yang kemudian berganti nama menjadi Raden Adipati Aryo Cokronegoro (Bupati pertama Purworejo) diangkat menjadi tumenggung di wilayah tersebut oleh Susuhunan Pakubuwono VI pada tahun 1828. Setelah itu, secara resmi sebutan wilayah yang menjadi kewenangan KRT Tjakradjaja diubah menjadi satu kata yaitu Purworejo," lanjut Atas.

Penggunaan kata Purworejo yang dipilih oleh Cokronegoro dimaksudkan agar nantinya masyarakat di daerah ini menjadi mandiri, makmur dan sejahtera karena saat itu Belanda masih berkuasa.

"Purwo artinya awal, terdepan atau maju sedangkan rejo artinya makmur dan penuh dengan keberkahan serta kemuliaan. Harapannya daerah di bawah kewenangan Cokronegoro benar-benar bisa mandiri, maju, makmur dan penuh berkah," imbuhnya.

Menyikapi perubahan hari jadi tersebut, Bupati Purworejo Agus Bastian menyambutnya dengan positif. Menjadi salah satu kota tertua di Indonesia dan sebutan kota pusaka tidak akan hilang begitu saja meski ada perubahan angka tahun yang signifikan.

"Tentunya itu tidak mengurangi sejarah dan menghilangkan nama Purworejo sebagai kota pusaka dan menjadi salah satu kota tertua di Indonesia. Daerah Bagelen di Purworejo ini lebih lama ada dibandingkan dengan kerajaan Majapahit, namun dasar yang kita gunakan sekarang ini adalah awal lahirnya pemerintahan yang menggunakan kata Purworejo," kata Agus Bastian.

Pengambilan keputusan hari jadi yang sekarang ini, diambil dari sudut pandang penggunaan awal kata Purworejo. Hal tersebut berbeda dengan hari jadi tahun-tahun sebelumnya yang menggunakan sudut pandang sejarah terbentuknya peradaban awal di daerah ini yang belum menggunakan kata Purworejo.

"Harusnya tahun ini hari jadi yang ke 1.118 namun setelah kita kaji ulang dengan para ahli, akhirnya sudah ditetapkan menjadi hari jadi yang ke 188 dan hari ini diperingati untuk yang pertama kalinya. Mudah-mudahan membawa semangat warga dalam melaksanakan pembangunan untuk Purworejo yang lebih maju, toto titi tentrem kerto raharjo, gemah ripah loh jinawi," pungkasnya.
(bgk/bgs)