Jadi Guru Besar UGM, Cornelis Lay Tawarkan Jalan Ketiga Intelektual

Usman Hadi - detikNews
Rabu, 06 Feb 2019 13:37 WIB
Pengukuhan Guru Besar Fisipol UGM, Cornelis Lay. Foto: Usman Hadi/detikcom
Sleman - Akademisi UGM, Cornelis Lay, resmi menjadi guru besar Fisipol UGM hari ini. Pengukuhannya dilakukan setelah dia menyampaikan orasi ilmiah berjudul 'Jalan Ketiga Peran Intelektual: Konvergensi Kekuasaan dan Kemanusiaan' di Balai Senat UGM.

Hadir dalam pengukuhan itu sejumlah elit PDIP seperti Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dan Djarot Saiful Hidayat. Juga tampak Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Mensesneg Pratikno, Mendagri Tjahjo Kumolo, Menlu Retno, Menhub Budi Karya Sumadi dan sejumlah tokoh lainnya.

Dalam orasinya, Prof Dr Cornelis Lay MA mengatakan selama ini posisi kalangan intelektual terbelah menjadi dua sifat biner. Pertama mendekat dan menjadi bagian dari kekuasaan, kedua menjauhi bahkan memusuhi kekuasaan. Dia menilai pembagian ini tak tepat.

"Pembilahan yang bersifat dikotomis di atas membuat kemampuan berpikir bebas sebagai karakter pokok (kalangan) intelektual tidak membuat ekspresi memadai," jelasnya, Rabu (6/2/2019).

Dia menilai adanya pembagian tersebut mengakibatkan mayoritas akademisi mengambil jarak dengan politik kekuasaan. Dengan jargon netral dan profesional, sebagian dari kalangan akademisi pun menjadi makhluk apolitis.


"Ironisnya, bahkan setelah terlibat jauh menjadi instrumen teknokratis lewat berbagai proyek kajian teknis yang dimintakan oleh kekuasaan, sejumlah intelektual masih gegabah mendapuk diri sebagai netral dan profesional," tuturnya.

Merujuk pembagian kedua oposisi biner tersebut, Cornelis mencoba menawarkan jalan ketiga peran intelektual. Menurutnya, kedua oposisi biner itu bisa dipadukan dan bisa menjadi pijakan kalangan akademisi di kampus-kampus.


"Jalan ketiga yang saya tawarkan sebaliknya bersifat timbal balik. Kaum intelektual bisa masuk dan keluar dari kekuasaan berdasarkan penilaian matang dan menyeluruh, bukan didekte oleh motif kecintaan atau kebencian terhadap kekuasaan," ucapnya.

"Jalan ketiga ini berbeda dengan logika berumah di angin ala Rendra si Burung Merak yang menekankan fungsi resi kaum intelektual yang hadir hanya dalam situasi darurat dalam kerangka memperbaiki. Jalan ketiga yang saya tawarkan justru justru mengharuskan kehadiran intelektual dan ilmu pengetahuan dalam praksis rutin kekuasaan," tutupnya. (ush/sip)