DetikNews
Selasa 05 Februari 2019, 15:16 WIB

Dugaan Perkosaan Mahasiswi UGM

HS dan Korban Damai, Pelapor: Kalau Laporan di Polda DIY Dicabut Ya Lucu

Ristu Hanafi - detikNews
HS dan Korban Damai, Pelapor: Kalau Laporan di Polda DIY Dicabut Ya Lucu Kepala Satuan Keamanan dan Keselamatan Kampus (SKKK) UGM, Arif Nurcahyo. Foto: Ristu Hanafi/detikcom
Sleman - Pelapor kasus dugaan pemerkosaan mahasiswi UGM ke Polda DIY, Arif Nurcahyo baru mengetahui jika antara korban dan pelaku dugaan pemerkosaan berdamai. Arif pun belum berpikiran untuk mencabut laporan polisi yang dibuatnya pada bulan Desember 2018.

"Kalau mencabut (laporan polisi) ya lucu, kalau terbukti atau tidak itu otoritas teman-teman penyidik. Saya mempercayakan kepada polisi, saya juga percaya kepada UGM, korban dan terlapor itu adik saya, UGM adalah rumah saya dan negara ini negara hukum. Mari sama-sama berproses dan menunggu," kata Arif saat dihubungi detikcom, Selasa (5/2/2019).

Arif yang menjabat Kepala Satuan Keamanan dan Keselamatan Kampus (SKKK) UGM menjelaskan lagi alasannya melapor ke Polda DIY.


"Saya waktu itu niat melapor atas dasar pertimbangan moral profesional. Moral karena sebagai seorang psikolog kasihan kondisi psikososial korban, terlapor dan UGM. Dan kebetulan sebagai alumni saya ditanya teman-teman, jadi saya bertanggung jawab untuk melapor supaya ada titik terang dan ada segera UGM mengambil sikap, dalam artian seperti itu," paparnya.

"Kemarin ada peristiwa yang masuk dua ranah, ranah kampus dan hukum. Ranah kampus dalam tanda kutip dipertanyakan langkah-langkahnya, ranah hukum belum dibuktikan. Sehingga saya melapor supaya ada referensi bagi UGM dan pihak terkait supaya tidak ada penghakiman dengan asumsi," lanjutnya.


Arif pun meyakini polisi bekerja profesional menindaklanjuti laporannya itu. Apalagi saat ini proses hukum telah naik penyidikan dan Polda DIY juga telah melakukan olah TKP ke lokasi kejadian di Pulau Seram, Maluku.

"Saya menunggu perkembangan, belum tahu saya akan mencabut laporan atau tidak. Kita sama-sama belajar tentang hukum dalam persoalan ini," ujarnya.

Terkait jumpa pers Rektor UGM, Panut Mulyono yang menyampaikan bahwa antara korban dan pelaku sepakat berdamai, Arif mengaku tidak tahu-menahu.


"Saya malah tidak tahu, tapi kalau itu keputusan win-win solution, ya monggo," sebutnya.

Arif mengatakan baginya yang terpenting adalah bagaimana UGM mengambil sikap dan membuat kebijakan. Sehingga hal yang sama tak terjadi lagi nantinya.

Dia berharap ada keputusan dari UGM yang konstruktif dan konkrit untuk menjamin hal itu.

"Jadi damai belum selesai (begitu saja). Yang bagus adalah setelah damai ada apa, untuk menjamin tidak ada kasus serupa lagi," tandas Arif.

"Ada sebuah peristiwa yang bisa ditarik dalam dua ranah, UGM sebagai otoritas akademis penyelenggara KKN, di sisi lain dugaan peristiwa hukum yang masih perlu dibuktikan di kepolisian," pungkasnya.


(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed