detikNews
Jumat 18 Januari 2019, 12:04 WIB

Patung Keris di Solo Dinilai Bisa Kaburkan Pemahaman Generasi Muda

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Patung Keris di Solo Dinilai Bisa Kaburkan Pemahaman Generasi Muda Tugu keris di Jembatan Tirtonadi, Solo (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo - Patung berbentuk keris raksasa yang baru saja dibangun di Jembatan Tirtonadi, Solo, mendapatkan kritik dari pengamat budaya dan pelaku perkerisan. Tugu tersebut dinilai tidak menerapkan aturan pakem keris.

Pengamat budaya asal Surakarta, Adi Sulistyono, menilai bangunan itu hanya layak disebut menyerupai patung keris. Namun, kata dia, tak ada satupun keris yang bentuknya sama seperti yang dipasang pada patung tersebut.

"Kalau seni kontemporer boleh bebas. Tapi keris kan seni tradisi yang punya pakem dan diikuti masyarakat sejak dulu," kata Adi saat ditemui di kediamannya, Jebres, Solo, Jumat (18/1/2019).


Salah satu bagian yang dinilai berbeda jauh dengan wujud keris ialah pada bagian bawah patung. Dia menilai keris seharusnya memiliki kontur tertentu. Demikian juga di bagian atas atau bilahnya yang hanya digambarkan tajam di satu sisi, dalam sejarah tidak ada keris dengan dhapur atau rancang bangun seperti itu.

"Selain itu (bilahnya) harus simetris kanan kirinya. Di bagian atas ini kan tidak simetris. Jadi ini keris bukan, pedang juga bukan. Tidak jelas," kata dia.

"Dhapur-nya apa harus jelas, bukan seenaknya sendiri," ungkapnya.

Tugu Keris di Solo Dinilai Bisa Kaburkan Pemahaman Generasi MudaTugu keris di Jembatan Tirtonadi, Solo (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)

Kekecewaan juga diungkapkan oleh Ketua Paguyuban Bawa Rasa Tosan Aji Surakarta (Bratasura), Agus Atmo Wijoyo. Dia menyayangkan hal tersebut karena terjadi di kota yang menjadi pusat budaya. Seharusnya pemerintah melibatkan insan perkerisan saat melakukan perencanaan.

"Di Solo kan banyak pakar keris, empu keris, harusnya dilibatkan. Kalau patung itu ada di negara lain, mungkin enggak masalah. Tapi ini di Solo, pusatnya keris," ujar dia.

Sebagai warisan budaya tak benda yang diakui UNESCO, kata Agus, monumen keris sepatutnya dibangun semirip mungkin. Bisa jadi keberadaan patung itu akan menjadi acuan generasi berikutnya ketika bicara tentang keris, padahal itu bentuknya tidak benar.

"Sederhananya begini, kalau kita membuat patung Bung Karno ya pasti semirip mungkin dengan Bung Karno. Bikin patung sapi ya jangan seperti kerbau. Kalaupun mirip, tetap saja beda," ujarnya.


Terpisah, Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo, mengatakan patung keris merupakan bagian dari proyek Jembatan Tirtonadi. Jembatan dibuat ganda dengan lebar masing-masing 14,9 meter.

Di antara dua jembatan dibangun patung keris sebagai monumen. Patung setinggi 25 meter itu dibuat dari cor beton dilapisi tembaga.
Tugu Keris di Solo Dinilai Bisa Kaburkan Pemahaman Generasi MudaKeris dhapur sempaner, salah satu ragam keris Jawa. Tajam di kedua sisi. (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)

Menjawab kritikan yang disampaikan budayawan, Rudy tidak mempermasalahkan bentuk patung yang dianggap tidak mirip dengan keris. Sebab pembuatnya memang bukan empu keris.

"Itu sebetulnya keris dengan pamor (motif bilah) beras wutah. Namun kalau dinilai tidak mirip ya enggak apa-apa, yang membuat kan bukan empu. Yang penting ruhnya ada di situ, kan itu menyatu dengan kawasan Minapadi," ujarnya.

Rudy juga memperkirakan bahwa perencanaan proyek patung itu tidak melibatkan ahli keris. Sebab, proyek jembatan secara keseluruhan dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

"Mau melibatkan bagaimana? Itu kan proyek Kementerian PUPR. Pemkot saja tidak dilibatkan kok," pungkasnya.
(bai/mbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed