DetikNews
Rabu 05 Desember 2018, 15:04 WIB

Keluarga Protes Revitalisasi Rumah Pramudya Ananta Toer di Blora

Arif Syaefudin - detikNews
Keluarga Protes Revitalisasi Rumah Pramudya Ananta Toer di Blora Rumah Pramudya di Blora (Foto: Arif Syaefudin/detikcom)
Blora - Rumah masa kecil sastrawan besar Pramudya Ananta Toer di Jalan Sumbawa Nomor 40, Kota Blora, kini dalam proses revitalisasi. Namun, proses revitalisasi yang sudah berjalan itu ternyata tidak sesuai dengan harapan keluarga Pramoedya Ananta Toer.

Banyak jenis kegiatan revitalisasi tersebut yang justru merubah dari bentuk keaslian rumah. Padahal, pihak keluarga mengira proses revitalisasi hanya akan memperbaiki bangunan yang telah rusak, bukan justru merubahnya.

Soesilo Toer, adik kandung Pramudya Ananta Toer, yang tinggal di rumah tersebut menyayangkan istilah revitalisasi yang justru berbeda pada proses pengerjaan di lapangannya. Dengan banyak perubahan yang terjadi, nilai histori justru akan hilang.

"Kalau bahasanya revitalisasi, ya titik vitalnya saja yang diperbaiki, bukan merubah bentuk. Kalau seperti ini ya rumah kokoh, lebih bagus dari yang dulu, tapi saya soroti dari segi heritage, dari segi budaya," terang Soesilo Toer saat ditemui di kediamannya, Rabu (5/12/18).
Keluarga Protes Revitalisasi Rumah Pramudya Ananta Toer di BloraSoesilo menunjuk foto proyek revitalisasi (Foto: Arif Syaefudin/detikcom)

Soesilo mengakui, berkali-kali menyampaikan komplain atas ketidaksesuaian jenis pembangunan tersebut. Namun, justru yang didapatnya perlakuan tidak mengenakkan dari kontraktor ataupun penanggung jawab proyek revitalisasi itu.

"Dulu awal penanggung jawab proyek baik, kalau sama saya sapa. Tapi setelah ada keluhan yang kami sampaikan, sekarang ya menegur sapa saja tidak. Ya saya tidak apalah, yang tadinya tidak kenal, sekarang tidak mau kenal," kata Soesilo.


Anak dari Soesilo Toer, Benne, juga menjelaskan sejumlah pengerjaan yang menurutnya tidak sesuai. Di antaranya bentuk jendela yang semula ada penutupnya kini dihilangkan. Jumlah jendela yang bertambah, pintu antarkamar yang kini dihilangkan, dan space ruangan yang kian sempit karena banyak ditambah sekat untuk ruangan baru.

"Banyak yang berubah, misal jendela luar semula ada kupingnya sekarang hilang. Pintu depan tadinya ada penutup seperti kanopi sekarang hilang. Antarkamar, semula ada penghubung berupa pintu sekarang dihilangkan. Banyak detail yang berubah," kata Benne.
Keluarga Protes Revitalisasi Rumah Pramudya Ananta Toer di BloraSoesilo menunjuk bagian-bagian rumah yang diubah (Foto: Arif Syaefudin/detikcom)

Ia menyayangkan pihak perencana yang minim komunikasi dengan pihak keluarga sejak awal dimulainya proses revitalisasi. Sedangkan kini, menurutnya ketika ada yang tidak sesuai, terjadi saling lempar antara pihak perencana dengan penanggung jawab proyek.


"Dulu perencana kami kirim usulan, tapi kemudian bilang kalau draft sudah jadi sehingga usulan kami tidak bisa digunakan saat itu, diarahkan usulan langsung disampaikan ketika pelaksanaan. Namun, justru pas kita usul ke perencana dilempar ke kontraktor ataupun pengawas di lapangan. Sedangkan mereka kan juga gak berani merubah gambar, mereka kan hanya pelaksana," terangnya.

Berdasarkan papan kontrak yang terpasang, proyek revitalisasi rumah sastrawan Pramoedya Ananta Toer mendapatkan anggaran senilai Rp 878 juta dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Dikerjakan selama 75 hari kerja terhitung sejak awal dimulainya pada tanggal 1 November 2018.
(mbr/mbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed