DetikNews
Senin 19 November 2018, 15:30 WIB

Ada 200 Titik Tanggul Kritis di Brebes

Imam Suripto - detikNews
Ada 200 Titik Tanggul Kritis di Brebes Salah satu titik tanggul kritis di Sungai Pemali, Brebes. Foto: Imam Suripto/detikcom
Brebes - Dinas Pengairan Sumber Daya Air dan Tata Ruang (PSDA Taru) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah memetakan ada lebih dari 200 titik tanggul di wilayah ini dalam kondisi kritis. Seperti apa kondisi kritis yang dimaksud?

"Pada prinsipnya semua tanggul yang rawan dan kritis sudah saya laporkan. Semua ada 200 titik (tanggul rawan) lebih di seluruh sungai yang ada di Brebes," ujar Kabid Konservasi Sumber Daya Air Dinas PSDA dan Taru Brebes, Mulyadi di kantornya, Senin (19/11/2018).

Titik tanggul kritis ini tersebar di semua sungai yang ada di wilayah Brebes. Kerusakan tanggul yang terjadi mulai dari elevasi permukaan yang amblas sehingga permukaan tidak rata, sampai badan tanggul yang mengalami longsor.

Dari semua titik tanggul kritis yang berhasil dipetakan, ada beberapa titik tanggul di dua sungai yang memerlukan perhatian khusus. Masing-masing Sungai Pemali dan Cisanggarung.

Data di Dinas Pengairan Sumber Daya Air dan Tata Ruang Brebes menyebut tanggul Sungai Pemali mulai dari bendung Notog hingga muara, ada 28 titik kerusakan yang perlu segera ditangai secara permanen. Tanggul sungai yang kondisinya kritis ini antara lain berada di Desa Wanasari, Terlangu, Pulosari, Sidamulya, Tengki dan beberapa desa lainnya.


"Pada musim hujan tahun kemarin, di lokasi itu terjadi luapan yang menyebabkan terjadinya banjir besar. Selain karena tanggul tidak kuat menahan derasnya air, juga karena permukaan (elevasi) tanggul yang tidak rata karena amblas," kata Mulyadi.

Untuk sungai Cisanggarung, lokasi tanggul kritis berada di Desa Bojongsari, Randusari, Babakan, Bantarsari, Jatisawit dan Karangsambung. Di antara lokasi itu, Mulyadi menyebut, tanggul yang perlu diwaspadai ada di Bantarsari, Karangsambung dan Jatisawit. Di mana tanah tanggul di desa longsor sehingga bada tanggul menjadi tipis.

Sejauh ini, penanganan terhadap tanggul kritis tersebut baru sebatas penanganan darurat. Di sejumlah tanggul kritis di Pemali, penanganan hanya dilakukan dengan menambal tanggul dengan karung yang berisi tanah.

Demikian pula di Sungai Cisanggarung, penanganan dilakukan dengan cara yang sama. Akan tetapi di beberapa titik ada yang ditangani dengan menggunakan bioenginering.


"Khusus untuk beberapa titik di Cisanggarung, kami pakai bioenginering dengan menanami bambu. Harapannya akar serabut rumpun bambu ini menimbulkan sedimentasi tanah," kata Mulyadi.

Belum maksimalnya penanganan tanggul ini, tambah Mulyadi karena minimnya anggaran. Kendala lain tidak adanya alat berat di dinas teknis.

"Sebenarnya masalah tanggul ini sudak diajukan anggarannya ke provinsi maupun pusat, tapi lagi-lagi terbentur minimnya anggaran," ungkapnya.

Sementara itu memasuki musim hujan seperti saat ini, warga yang tinggal di sekitar tanggul mulai waswas dengan kondisi tanggul kritis tersebut.

Salah seorang warga Desa Pulosari,Subekti (42) mengaku, tanggul yang rusak itu sampai sekarang belum ditangani secara maksimal. Badan tanggul yang longsor juga masih dibiarkan sampai sekarang dan belum ditangani.

"Terus terang warga sini (Desa Pulosari) sangat khawatir. Tanggul ini masih sama seperti saat banjir tahun kemarin. Katanya mau diperbaiki tapi sampai sekarang mau musim hujan lagi belum ditangani," kata Subekti saat ditemui di dekat tanggul yang ada di Desa Pulosari, Kecamatan Brebes.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed