DetikNews
Jumat 09 November 2018, 12:33 WIB

2 Caleg Golkar Semarang Terdakwa Politik Uang Terancam 2 Tahun Bui

Eko Susanto - detikNews
2 Caleg Golkar Semarang Terdakwa Politik Uang Terancam 2 Tahun Bui Suasana sidang di PN Ungaran. Foto: Eko Susanto/detikcom
Semarang - Dua terdakwa kasus dugaan politik uang, Siti Ambar Fatonah dan Sarwono menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Ungaran. Keduanya terancam hukuman penjara selama 2 tahun penjara dan denda Rp24 juta.

Sidang perdana dimulai pukul 09.00 WIB tadi dengan dipimpin majelis hakim Ketua, Tri Retnaningsih SH, Hendra Yuristiawan SH dan Wasis Priyanto SH, Jumat (9/11/2018). Terdakwa Ambar datang memakai baju batik merah maron serta jilbab warna kuning, sedangkan terdakwa Sarwono memakai baju lengan panjang warna putih serta celana panjang warna hitam. Kedua terdakwa ini didampingi penasihat hukumnya, Muhammad Sofyan SH.

Jaksa Penuntut Umum Perwira Putra Bangsawan SH MH mengatakan, terdakwa Siti Ambar Fatonah dan Sarwono, pada hari Minggu (23/9), sekitar pukul 00.45 WIB menghadiri undangan sedekah dusun.

"Pada hari Sabtu tanggal 22 September 2018 sekira pukul 21.00 WIB, terdakwa I Siti Ambar Fatonah dan terdakwa II Sarwono datang ke acara sedekah dusun yang dilaksanakan di Dusun Kalikembar, Desa Pakopen Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, berdasarkan undangan dari saksi Hadi Subroto. Kemudian pada saat acara berlangsung hari Minggu tanggal 23 September 2018 sekira pukul 00.45 WIB, saksi Hadi Subroto menyuruh saksi Jumari untuk memanggil terdakwa I Siti Ambar Fatonah dan terdakwa II Sarwono untuk naik ke atas panggung," katanya saat membacakan surat dakwaan di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Ungaran, Jumat (9/11/2018).

Kemudian padasaat itu, katanya, terdakwa I Siti Ambar Fatonah dan terdakwa II Sarwono naik ke atas panggung. Kemudian, terdakwa Siti Ambar Fatonah mengatakan,"Alhamdulilah kulo saget sowan kalihan adik kulo Sarwono nderek syukur bilih warga Kalikembar ing ndalu puniko syukur kanthi diwujudaken nanggap wayang kulit sing jarene wau murah meriah (Alhamdulillah saya bisa hadir dengan adik saya, Sarwono. Ikut bersyukur bahwa warga Kalikembar di malam ini, bentuk syukur kita diwujudkan dengan mengadakan pentas wayang kulit yang katanya murah meriah)," tutur Ambar.

Dalam acara tersebut intinya, Ambar meminta dukungan kepada warga setempat dalam pileg tanggal 17 April 2019, untuk memilihnya untuk caleg Partai Golkar Provinsi nomor 3 dan Sarwono nomor 1. Kemudian, sebelum meninggalkan panggung, kedua terdakwa memberikan amplop kepada panitia.

Adapun besarnya uang amplop dari Ambar senilai Rp300 ribu dan Sarwono Rp200 ribu dengan dalih untuk membeli minuman mineral.

Setelah dibacakan surat dakwaan, terdakwa mengakui telah memahami dakwaan dan tidak menyampaikan eksepsi. Selanjutnya, sidang akan kembali dilanjutkan pada, Senin (12/11), dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi.


Ketua Tim Jaksa Penuntut Umum Raharjo Budi Kisnanto mengatakan, terkait barang bukti yang diajukan berupa rekaman. Pengajuan barang bukti elektronik ini berdasarkan Pasal 5 UU No 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik.

"Terkait barang bukti yang kita ajukan ke persidangan itu asalnya dari Bawaslu, kemudian diserahkan kepada kepolisian. Karena barang bukti berupa rekaman berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi nomor 2 tahun 2008 dan nomor 50 tahun 2009 bahwa barang bukti elektronik yang diajukan cukup hasil rekaman, jadi bukan berupa alat yang digunakan pada saat melakukan shooting," kata Raharjo yang juga Kajari Kabupaten Semarang, usai sidang.

"Bukti elektronik ini dasarnya adalah Pasal 5 UU no 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik," kata dia.

Terkait dengan politik uang, katanya, akan dibuktikan dalam persidangan pada Senin (12/11).


"Tugas dari penuntut umum membuktikan pasal-pasal yang didakwakan yaitu dakwaan pertama sebagaimana sudah kita dengarkan melanggar Pasal 521 UU no 7 tahun 2017 tentang pemilu juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau dakwaan kedua melanggar Pasal 523 ayat (1) juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Nanti tergantung dari kemampuan penuntut umum untuk membuktikan tentang hal itu," tegasnya.

Menyinggung soal ancaman hukuman Pasal 521 dan 523, kata Raharjo, pidana penjara setinggi-tingginya 2 tahun dan denda setinggi-tingginya Rp24 juta.

"Ancaman hukuman untuk Pasal 521 dan 523, pidana penjara setinggi-tingginya 2 tahun dan denda setinggi-tingginya Rp24 juta," katanya seraya menyebutkan akan mengajukan 16 saksi.

Sementara itu, penasihat hukum terdakwa Ambar dan Sarwono, Muhammad Sofyan mengatakan, tidak menyampaikan eksepsi atau keberatan karena terdakwa telah memahami atas dakwaan tersebut.

"Nanti tanggapan itu dalam pokok perkara. Kita akan lihat saja keterangan-keterangan atau pembuktian yang dilakukan jaksa. Termasuk menyiapkan saksi yang meringankan," katanya.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed