ADVERTISEMENT

Melihat Pencemaran Parah di Bengawan Solo

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Selasa, 30 Okt 2018 07:57 WIB
Hitam pekat air di anak sungai Bengawan Solo di Kadokan, Sukoharjo. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
Solo - Instalasi Pengolahan Air (IPA) Jurug dan Jebres menyetop operasinya sejak Minggu (28/10) malam. Penyebabnya, air baku yang menjadi sumber air minum PDAM Surakarta tercemar parah.

IPA di titik tersebut mengambil air baku dari Sungai Bengawan Solo yang melintasi sisi timur Kota Solo. Karena pencemaran terlalu berat, IPA tidak dapat mengolahnya menjadi air bersih.

Humas Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surakarta, Bayu Tunggul menjelaskan pencemaran pada musim kemarau seperti saat ini biasanya terjadi lebih pekat.

"Tapi kali ini lebih parah dari tahun-tahun lalu. Biasanya masih bisa diolah, sekarang tidak bisa," kata Bayu Tunggul saat dihubungi detikcom, Senin (29/10).

Menurutnya, air baku yang sudah diolah tidak layak dikonsumsi. Meski telah diolah, air masih berwarna kuning, berminyak dan berbau. Ada 20 persen pelanggan dari total 59 ribu pelanggan yang terdampak.

"Dua IPA ini menyalurkan air ke Mojosongo, Ngoresan, Jebres, Pucangsawit, Jagalan dan Sangkrah. Ada 12 ribu pelanggan di daerah ini," ujarnya.

PDAM telah menelusuri sumber pencemaran. Pencemaran paling pekat ditemukan di Kali Samin, perbatasan Solo-Sukoharjo.

"Ada anak sungai yang pencemarannya pekat sekali, katanya banyak pabrik baru yang buang limbah di Kali Samin," kata dia.

Untuk sementara, PDAM Surakarta bersama PMI dan BPBD melakukan droping air ke daerah-daerah terdampak.


Pantauan detikcom air Bengawan Solo tampak hitam di beberapa titik, Senin (29/10/2018). Antara lain di Kadokan, Sukoharjo, kemudian di Sewu, Jebres, dan bawah jembatan Jurug, Pucangsawit, Solo.

Aliran Bengawan Solo di Sewu, Solo.Aliran Bengawan Solo di Sewu, Solo. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom

Titik pencemaran paling parah ialah di anak sungai Bengawan Solo di Kadokan, Kecamatan Grogol, Sukoharjo. Tampak air berwarna hitam pekat. Alirannya pun tidak deras.

Di Beton, Kelurahan Sewu, Jebres, Solo, aliran utama Bengawan Solo ini hanya setinggi lutut orang dewasa. Warna air menunjukkan hitam kecokelatan.


Sedangkan di bawah Jembatan Jurug yang paling dekat dengan IPA Jurug, airnya berwarna hitam. Air inilah yang masuk ke IPA Jurug.

Saat mengecek ke IPA Jurug, detikcom melihat langsung kondisi air hasil olahan PDAM. Air yang seharusnya bening tak berbau, kini masih berwarna kuning dan berbau.

Aliran Bengawan Solo di bawah Jembatan Jurug, Solo.Aliran Bengawan Solo di bawah Jembatan Jurug, Solo. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom

"Kemarin pelanggan mengeluh karena warnanya kuning, baunya juga tidak enak. Makanya kemarin jam 22.00 WIB kita berhenti operasi," kata operator IPA Jurug, Wakiman, kepada detikcom, Senin (29/10).

Menurutnya, pencemaran ini paling parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Musim kemarau panjang memperparah kondisi ini.


"Kalau musim kemarau limbah semakin pekat. Apalagi ini kemaraunya panjang. Kalau dulu airnya cokelat tapi enggak bau," ujarnya.

Diwawancara terpisah, Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo menggatakan telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo untuk mengatasi hal itu.

Wali kota yang disapa Rudy itu meminta BBWS menggelontorkan air dari Waduk Gajah Mungkur. Diharapkan pencemaran dapat berkurang dengan langkah itu.

"Kita coba koordinasi dengan BBWS untuk menggelontorkan air dari Waduk Gajah Mungkur supaya air Bengawan Solo bisa diolah," kata Rudy di Balai Kota Surakarta, Senin (29/10).

Ditanya mengenai koordinasi dengan kabupaten sekitar Solo yang juga dilewati Bengawan Solo, Rudy memilih langsung berkoordinasi dengan BBWS.

Hasil olahan air Bengawan Solo oleh PDAM Surakarta. Hasil olahan air Bengawan Solo oleh PDAM Surakarta. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom

"Itu satu-satunya jalan karena pencemaran di sungai itu kita tidak bisa menunjuk siapa yang mencemari. Dari hulu sampai Jurug itu siapa yang mencemari kita enggak tahu," ujar dia.

Namun untuk jangka panjang, Rudy berencana akan membuat lebih banyak sumur-sumur dalam. Saat ini ada 26 titik sumur dalam yang ada di Solo, lima di antaranya sudah tidak berfungsi.

Terkait sumur dalam ini, Humas PDAM Surakarta, Bayu Tunggul, mengatakan sumur dalam saat ini tidak dapat menjangkau banyak pelanggan karena debitnya yang sedikit.

"Sekarang tinggal 21 titik. Itu pun debitnya kecil, mulai 5 liter per detik sampai 30 liter per detik, sedangkan air dari sungai bisa ratusan liter per detik," ujar Bayu. (bai/sip)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT