detikNews
Selasa 04 September 2018, 15:51 WIB

Melihat Budidaya Tawon Klanceng di Purworejo

Rinto Heksantoro - detikNews
Melihat Budidaya Tawon Klanceng di Purworejo Foto: Rinto Heksantoro/detikcom
Purworejo - Madu tawon klanceng memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, namun hingga kini masih jarang warga yang membudidayakannya karena dianggap sulit dan kalah populer dengan lebah madu biasa. Di Purworejo, Jawa Tengah, terdapat kampung yang mayoritas penduduknya membudidayakan tawon berukuran lebih kecil dari lalat itu. Tawon ini sering disebut tawon klanceng.

Warga Desa Jelok, Kecamatan Kaligesing berhasil membudidayakan serangga penghasil madu tersebut. Budidaya dilakukan dengan cara membuatkan kandang tawon dan diletakkan di tembok rumah, teras, halaman maupun pekarangan.

Sebelum dikandang, awalnya tawon diambil hutan atau lingkungan sekitar kampung. Satu kotak berisi satu koloni dengan jumlah ribuan tawon. Setelah berhasil dikembang biakkan, tawon akan dipecah menjadi beberapa koloni di kandang lain.

"Awalnya tawon kita ambil dari alam beserta sarangnya terus dimasukin kandang yang telah disiapkan. Setelah berkembang biak nanti akan ada koloni baru dan kita pisahkan ke kandang lain," kata Ketua Kelompok Tani Sekar Sari, Puput Noto Restoni (30) yang ditemui detikcom di rumahnya, Selasa (4/9/2018).
Melihat Budidaya Tawon Klanceng di PurworejoFoto: Rinto Heksantoro/detikcom

Untuk memudahkan pemeliharaan, kandang untuk sarang tawon dibuat dua susun. Susunan atas berukuran 20 cm x 40 cm untuk tempat bee polen dan madu, sedangkan susunan bawah ukuran 12 cm x 30 cm untuk telur, ratu dan tawon pekerja.

"Untuk lubang atau pintu keluar masuk lebah dibuat di samping kotak bagian bawah dan agar tidak kehujanan kotak diberi atap seng," lanjutnya.

Sementara itu, Imam Prayodi (31) salah satu petani menuturkan budidaya tawon tersebut mudah dan tidak perlu melakukan perawatan khusus terhadap lebah dalam sarang. Meskipun lebah tidak diberi makan langsung oleh petani, namun syarat sukses budidaya lebah adalah adanya lingkungan yang mendukung yakni ketersediaan bunga di sekitar sarang.

"Jenis bunganya pun sembarang dan tidak harus tanaman hias. Itu saya juga tanam bunga matahari, kopi, dan murbei. Lebah juga punya kemampuan jelajah hingga 500 meter dari kandang, jadi asal banyak tanaman berbunga, lebah pasti hidup. Selain itu juga jangan membakar sampah di dekat sarang karena asap akan mematikan lebah dalam kandang," ucapnya.
Melihat Budidaya Tawon Klanceng di PurworejoFoto: Rinto Heksantoro/detikcom

Madu baru bisa dipanen setelah tiga hingga empat bulan tawon menghuni sarang barunya. Pemanenan dilakukan secara manual dengan memeras dan menyaring kantung madu yang telah dikumpulkan koloni lebah tanpa mengganggu telur, tawon pekerja dan ratu.

"Produksi madu tergantung koloni, satu koloni besar dalam satu kotak rata-rata menghasilkan 50 ml madu sekali panen," lanjutnya.

Madu tawon klanceng menjadi primadona petani di Desa Jelok. Bahkan, karena sukses, beberapa tetangga desa pun ikut membudidayakan tawon tersebut.

Kini, madu yang dihasilkan tidak hanya dipasarkan di Purworejo namun hingga kota-kota besar lainnya seperti Semarang, Bekasi, Tangerang dan sekitarnya. Satu botol madu klanceng murni ukuran 130 ml dijual dengan harga Rp 80 ribu. Sedangkan botol ukuran 260 ml dibanderol dengan harga Rp 160 ribu.

"Ke depan tidak hanya madu yang akan kita produksi, tapi juga bee polen serta propolis. Sampai sekarang kami masih bekerjasama dengan mahasiswa UMP untuk mengembangkan bee polen dan propolis itu," pungkasnya.
(bgs/bgk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com