DetikNews
Senin 03 September 2018, 07:51 WIB

Kisah Keluarga Dasirin yang Sempat Tinggal di Kandang Kerbau

Robby Bernardi - detikNews
Kisah Keluarga Dasirin yang Sempat Tinggal di Kandang Kerbau Kandang kerbau yang ditinggali keluarga Dasirin. Foto: Robby Bernardi/detikcom
Pekalongan - Namanya Dasirin (46), warga Desa Krompeng, Kecamatan Talun, Pekalongan. Pekerjaanya sebagai pemelihara ternak kerbau dan buruh serabutan. Kandang kerbaunya berada di atas bukit Menggeng, Dusun Cokrah, Desa Sengare, Kecamatan Talun.

Awalnya Dasrin sendirian menempati kandang kerbau tersebut selama setahun belakangan. Namun, dalam tiga bulan terakhir ini dia mengajak istri dan dua anak untuk tinggal bersama di kandang kerbau yang berdiri di atas tanah saudaranya itu. Dasirin tidak tega melihat anak-istrinya tinggal di rumah mertuanya. Jarak dari rumah mertua Dasirin dengan kandang kerbau memang jauh, sekitar 15 KM, masih satu wilayah kecamatan.

Dalam tiga bulan, Dasirin (46) , Tarkonah (36) dan dua anaknya yakni Vivi Ratnasari (11) serta Wiwit Setiyaningsih (16), menempati kandang kerbau yang berada di atas bukit Menggeng, Desa Sengare. Lokasi kandang kerbau yang jauh dari permukiman membuat keluarga Dasirin terisolasi. Ya, Jaraknya kandang kerbau ke pemukiman terdekatpun cukup jauh, yakni sekitar 7 km dengan kondisi jalan setapak yang curam dan terjal. Untuk penerang di malam hari, Dasirin hanya mengandalkan lampu tempel, yang dibuat dari botol bekas dengan bahan bakar solar.

"Kalau saya tinggal di sini sudah setahun. Tapi kalau anak-istri baru tiga bulan," kata Dasirin saat ditemui detikcom di rumah kandang kerbaunya, Sabtu (1/9).


Dua anak Dasirin yang mengalami lumpuh, tak mampu berjalan, sehingga hanya beraktivitas di atas kayu dan bambu yang juga sebagai tempat tidur mereka. Dasirin memang menyulap kandang yang berisi tiga ekor kerbau tersebut menjadi tempat tinggal keluarganya. Wiwit dan Vivi dibuatkan tempat tidur berupa panggung dari bambu persis di atas tiga kerbau. Sedangkan Dasirin dan istrinya tidur di sebelah kerbau hanya dibatasi beberapa palang bambu dan kayu.

Sebagai pemelihara ternak, memang tidak bisa menjadi tumpuan hidup. Apalagi ternaknya bukan ternak Dasirin sendiri. Kerbau-kerbau yang dirawat Dasirin merupakan kerbau milik warga Desa Sengare. Kerbau tersebut juga biasa disewa petani desa untuk membajak sawah. Di saat itulah Dasirin baru merasakan pekerjaan sesungguhnya. Karena dengan membajak sawah dirinya mendatkan upah, untuk sewa kerbaunya maupun tenaga dirinya yang membajak sawah. Namun jasa itu kian meredub digantikan dengan traktor.

"Kalau tidak ada pekerjaan itu saya serabutan. Kalau sepi ya kita makan apa yang bsia diambil di hutan," kata Dasirin.


Lebih banyak sepinya ketimbang bekerjanya. Bila lagi sepi pekerjaan, Dasirin bersama Tarkonah turun ke desa. Dari pagi sampai sore mereka mencari kesibukan di desa untuk mendapatkan upah makanan. Dua anaknya yakni Wiwit dan Vivi ditinggal di kandang kerbaunya. Dengan penuh harap Wiwit dan Vivi menunggun kepulangan orangtuanya untuk membawa makanan.

Tidak semua harapan terwujud. Dasirin dan Tarkonah terkadang pulang ke kandang hanya membawa lelah karena jalan naik turun bukit. Kerap dirinya memanfaatkan makanan di hutan untuk bertahan hidup. Keracunan ubipun dia alami tidak hanya satu dua kali.

Kondisi keluarga Dasirin saat tinggal di kandang kerbau. Kondisi keluarga Dasirin saat tinggal di kandang kerbau. Foto: Robby Bernardi/detikcom

"Kalau tidak dapat uang beli beras atau makanan ya paling kita cabut ubi di depan. Pernah saya keracunan mau pingsan karena makan ubi pahit," katanya.

Sedangkan Wiwit dan Vivi yang ditinggal berdua di kandang kerbau setiap hari dihantui dengan ketakutan karena tamu tak diundang kerap masuk ke rumahnya. Hewan liar seperti kera, babi hutan maupun ular, kerap masuk tempat tinggalnya itu.


Wiwit sebagai anak tertuapun haya bisa melihat hewan-hewan liar ini mencari sisa makanan di dalam kandang. Dirinya tidak kuasa beranjak dan mengusir, karena kakinya yang lumpuh.

"Saya pingin punya rumah seperti lainnya. Saya pingin sekolah dan bermain juga," kata Vivi yang pernah mengenyam pendidikan dasar hanya sampai kelas satu sekolah dasar ini.

Kisah keluarga Dasirin yang membawa anak dan istrinyapun menjadi buah bibir di Desa Sengare. Merasa kasihan,tokoh masyarakat dan kepala desa mencoba untuk menemui Dasirin, untuk mengajak turun dari hutan, menempati rumah kosong yang ada di desa. Beberapa kali dirayu, Dasirin masih pada pendiriannya hidup di hutan.

Hingga akhirnya di awal bulan september ini, hati Dasirin terketuk demi anak-anak tercintanya Dasirin mau turun hutan menempati rumah kosong untuk sementara waktu.

Dasirin saat gendong anaknya, Wiwit yang lumpuh keluar dari kandang kerbau.Dasirin saat gendong anaknya, Wiwit yang lumpuh keluar dari kandang kerbau. Foto: Robby Bernardi/detikcom

Kebaikan warga Sengare tidak sampai di sini saja, warga beramai-ramai menyiapkan lahan desa untuk dibuatkan rumah yang layak buat keluarga Dasirin.

"Keluarga Pak Dasirin untuk sementara tinggal di rumah dinas Pustu (Puskesmas Pembantu) Sengare. Kita bersama warga lainnya menyiapkan lahan untuk rumah tetap mereka. Kami juga akan merapikan administrasi pindahan Pak Dasirin ke desa kami," jelas Kepala Desa Sengare, Hasanudin.

Warga gotong royong membantu evakuasi keluarga Dasirin. Warga gotong royong membantu evakuasi keluarga Dasirin. Foto: Robby Bernardi/detikcom

Terketuknya hati Dasirin yang mau turun gunung ini disambut senang para warga. Warga lantas berbondong-bondong membantu proses evakausi barang-barang milik keluarga Dasirin. Sebagian ibu-ibu ikut serta membersihkan rumah kosong yang lama tidak ditempati, sebagian lagi mempersiapkan minuman dan makanan untuk warga yang gotong royong.

Kisah keluarga Dasirin ini terdengar sampai Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi. Bupati langsung turun untuk menengok kondisi Kleuarga Dasirin yang sudah berada di rumah sementaranya. Bupati berjanji akan membuatan rumah dan mencukupi kebutuhan makann nutrisi keluarga Dasirin. Tidak hanya itu, bupati juga akan memeriksakan kesehatan Keluarga Dasirin termasuk kondisi dua anak Dasirin yang menderita cerebral palsy.

Bupati Pekalongan mengunjungi keluarga Dasirin. Bupati Pekalongan mengunjungi keluarga Dasirin. Foto: Robby Bernardi/detikcom

"Pemerintah akan melakukan langkah-langkah, yang pertama akan dibikinkan rumah yang tanahnya telah disediakan sama Pak Lurah, kemudian nanti kita bangun bersama-sama," kata Asip Kholbihi.

Dalam kurun waktu sekitar dua minggu ke depan, kelurga Dasirin resmi akan memiliki rumah sendiri, yang jauh lebih layak dibandingkan dengan kandang kerbaunya. Pihak pemerintah juga akan melakukan advokasi pendidikan anak-anak Dasirin.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed