Ternyata Alun-alun Kota Semarang Itu Bukan Simpang Lima

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Kamis, 23 Agu 2018 18:24 WIB
Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Semarang - Saat ini Pemerintah Kota Semarang, memulai proyek mengembalikan alun-alun Kota Semarang yang hilang. Lokasinya berada di kawasan Pasar Johar.

Memang saat ini banyak yang mengira alun-alun asli Kota Semarang adalah Simpang Lima Semarang. Sebenarnya Simpang Lima menjadi pusat alun-alun sejak 1969 atas usulan Presiden Soekarno. Dan sebelum itu, alun-alun berada di kawasan Pasar Johar tepatnya di depan Masjid Agung Semarang, Kauman.

Dipindahnya alun-alun dari Kauman kala itu karena kegiatan perbelanjaan di kawasan Pasar Johar yang semakin meluas. Kepadatan pun tidak terhindarkan karena penataan yang kurang.

Maka kali ini bersamaan dengan revitalisasi Pasar Johar pasca kebakaran tahun 2015 lalu, Pemerintah Kota Semarang juga mulai menghidupkan lagi alun-alun asli Kota Semarang yang lenyap.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan proyek dimulai tepat pada Idul Adha hari Rabu (22/8) kemarin. Maknanya yaitu bererimakasih kepada 7.700 pedagang yang rela berkorban untuk direlokasi selama masa pembangunan.

"Menurut saya pengorbanan pedagang luar biasa. Ada 7.700 pedagang bisa tenang, nyaman, bisa pindah karena musibah kebakaran dan adanya percepatan pembangunan. Mereka itu pahlawan, kita minta kontraktor tepat waktu," kata Hendrar saat di Balai Kota Semarang, Kamis (24/8/2018).

Ia menjelaskan dana yang salurkan untuk mengembalikan alun-alun Kota Semarang sebesar Rp 100 miliar dan dilakukan dalam dua tahap masing-masing Rp 50 miliar. Anggarannya dari APBD Kota Semarang.

"Pembangunan alun-alun ada 2 tahap. Tahun ini 50 (miiar rupiah) tahun depan 50. Wujud bagunan alun-alun terlihat tahun depan," jelasnya.

Konsep dasar alun-alun akan dibuat sama dengan alun-alun kebanyakan yaitu berdekatan dengan Masjid. Pada lahan seluas 9,184 hektar itu juga akan dipasang 700 tiang pancang untuk basement yang nantinya diperuntukkan bagi para pedagang. Sehingga pemandangan alun-alun tetap terjaga.

"Pedagang yang tidak berdampak bencana kebakaran mau berkorban untuk direlokasi sementara untuk percepatan pembangunan, maka alun-alun ini akan jadi satu kesatuan dengan Pasar Johar yang baru," terang Hendi.

Untuk diketahui, pembangunan Pasar Johar sendiri ada dua bagian yaitu bangunan cagar budaya dan bangunan baru. Diperkirakan pedagang bisa kembali beraktivitas di pasar legendaris itu pada tahun 2020.

Hendi berharap predikat Pasar Terbesar di Asia Tenggara bisa kembali dipeorleh Pasar Johar. Selain itu dengan dikembalikannya alun-alun bisa juga menjadi destinasi wisata yang bersinergi dengan pasar tradisional.

"Ya semoga bisa kembali jadi yang terbesar dan jadi destinasi wisata," pungkasnya. (alg/bgs)