DetikNews
Minggu 19 Agustus 2018, 10:24 WIB

Tugu Bandayuda, Mengenang Heroisme Pejuang di Banyumas

Arbi Anugrah - detikNews
Tugu Bandayuda, Mengenang Heroisme Pejuang di Banyumas Foto: Arbi Anugrah/detikcom
Banyumas - Di wilayah kaki Gunung Slamet tepatnta di Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Banyumas ada monumen Poedjadi Djaring Bandajoeda. Monumen ini menjadi saksi peristiwa pertempuran pejuang Indonesia melawan Belanda saat agresi militer kedia tahun 1948.

Tugu setinggi 3 meter di tengah jalan di Dusun Bandayuda dikenal sebagai Monumen Poedjadi Djaring Bandajoeda. Peristiwa bersejarah itu terjadi saat Belanda menguasai Purwokerto dan mengingkari gencatan senjata dalam perjanjian Renville tentang batas demarkasi di wilayah itu.

Achmad Jauhari Sujoko (82) warga RT 5/RW 7 Grumbul Bandayuda menjadi saksi sejarahtersebut. Dia yang saat itu baru berumur sekitar 12 tahun. Pejuang Indonesia di wilayah itu tergabung Organisasi Pertahanan Rakyat (OPR) di bawah komando perwira TNI bernama Poedjadi. Wilayah Bandayuda merupakan benteng perjuangan masyarakat Cilongok bersama tentara Indonesia.

Saat itu belanda memiliki pos di Desa Karang Tengah, di Karang Gandul, di Karanglewas dan Ajibarang. Setiap beberapa hari sekali, Belanda selalu melakukan patroli keliling ke beberapa wilayah. Sejak dikuasainya Kota Purwokerto oleh Belanda, hampir semua pejuang dan pemerintahan kala itu bergeser ke utara Kota Purwokerto atau sekitar lereng kaki Gunung Slamet termasuk Desa Gunung Lurah.

"Saat sekitar pukul 08.00 WIB, Belanda mau masuk Gunung Lurah dari arah Cilongok, di selatan jalan kereta api ada jembatan gantung. Sedangkan tentara Indonesia ada yang sedang cuci pakaian dan ada yang sedang sarapan," kata Achmad memulai cerita.
Tugu Bandayuda, Mengenang Heroisme Pejuang di Banyumas Foto: Arbi Anugrah/detikcom

"Ketika itu seorang petani yang tengah berada di sawah melihat ada banyak tentara Belanda yang tengah melintas jembatan gantung menuju Gunung Lurah. Petani lari pulang untuk melaporkan kepada tentara disini jika ada Belanda mau masuk Gunung Lurah," kata Achmad.

Mendapatkan laporan tersebut, para pejuang yang berada di Gunung Lurah kemudian bersiap untuk menyambut kedatangan dua regu pasukan Belanda yang sedang berpatroli. Seluruh pasukan yang dipimpin oleh Komandan Kompi Poedjadi kemudian bersiap menyergap pasukan Belanda ditengah sawah.

"Itu nyata, Belanda banyak masuk sini tapi dibiarkan saja, tapi tentara siap dengan dibuat tapel kuda (formasi), disergap seperti ikan yang mau di jaring. Belanda itu terus masuk ke Gunung Lurah, tapi tentara Indonesia diam saja tidak membunyikan apa-apa sampai Belanda masuk perangkap. Belanda terkejut karena diserang," katanya.

Mendapatkan serangan mendadak tersebut, Belanda berulang kali meminta bantuan menggunakan telepon tentara yang biasa digendong. Pertempuran berlangsung seharian hingga sekitar pukul 16.00 WIB, pasukan Belanda tidak bisa memasuki Desa Gunung Lurah, mereka terus ditembaki oleh tentara Indonesia.

"Tentara Belanda mungkin boleh dikatakan habis di Gunung Lurah," ujar dia.

Setelah itu Belanda membalas dengan serangan udara. Belanda juga menembakkan peluru canon dari arah Purwokerto sejak pukul 19.00-21.00 WIB. Akibatnya banyak penduduk yang terkena.

Untuk mengenang peristiwa itu kemudian dibangunlah monumen di Dusun Bandayuda.


Tonton juga video: 'Drama Pengusiran Penjajah di Tugu Pahlawan'

[Gambas:Video 20detik]


(arb/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed