DetikNews
Jumat 17 Agustus 2018, 18:55 WIB

Cara Mbah Hardijono Memperingati Hari Merdeka di Usia 92 Tahun

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Cara Mbah Hardijono Memperingati Hari Merdeka di Usia 92 Tahun Mbah Hardijono upacara sendirian di depan rumahnya (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)
FOKUS BERITA: HUT RI Ke-73
Semarang - Berdiri seorang diri di depan bendera Merah Putih yang menancap di halaman rumahnya, kakek bernama Hardijono (92) memberikan sikap hormat. Mayor Purnawirawan TNI-AD itu tetap berusaha merayakan kemerdekaan Indonesia walau raga sudah melemah.

Beberapa tahun terakhir ini Hardijono memang sudah tidak sanggup beraktivitas banyak sehingga upacara yang dulu sering dihadiri harus dilewatkan. Namun hal itu tidak mengurangi keinginannya memperingati hari kemerdekaan.

Di depan halaman rumahnya di Jalan Tentara Pelajar nomor 23 Semarang, tertancap tiang bambu untuk mengibarkan bendera Merah Putih. Hardijono pun berdiri di depannya dan memasang sikap hormat tepat di jam detik-detik proklamasi.

Tidak sampai dua menit, Hardijono masuk tertatih ke ruang tamu dan duduk beristirahat. Buyut dengan 12 cicit itu mulai bercerita penggalan kisah hidupnya pada masa penjajahan.

"Ikut perang itu sejak umur 19 tahun, di Badan Keamanan Rakyat," kata Hardijono mengawali ceritanya, Jumat (17/8/2018).

Kala itu, anak- anak muda memang dikumpulkan untuk berjuang dan bertempur melawan pasukan Belanda. Kakek kelahiran 28 April 1926 itu masih ingat betul strategi membuat Belanda bingung kemudian merebut persenjataan mereka.

"Jadi waktu itu patroli bersama dengan tentara pelajar. Tapi kalau siang kami (menyamar) jadi petani, jual es degan (kelapa muda) sambil memantau Belanda, berapa pasukannya, senjatanya dimana. Jadi Belanda bingung, pas siang tidak ada musuh kok kalau malam ada," ujar Hardijono.

Dari strategi patroli itu, pada malam harinya pejuang Indonesia bisa bergerak bebas dan langsung menyerang pasukan Belanda. Setelah itu senjata Belanda dilucuti dan direbut.

"Kita menyerangnya bukan menembak tapi dipiting, terus tikam. Ya pakai pisau atau bambu runcing," ujarnya.

Itu hanya sepenggal kisah Hardijono menghadapi Belanda. Saat itu ia dan teman-temannya berkali-kali harus menghindari serangan senjata bahkan mortir yang ditembakkan dari pantai.

"Pernah di Brumbung (Demak), ada tembakan, bom dari laut. Kita langsung pindah," ujarnya.

Pertempuran demi pertempuran dilewati Hardijono hingga akhirnya Presiden Soekarno membaca Proklamasi. Namun kala itu Hardijono dan kawan-kawan tidak bereuforia karena bersiap kembali menghadapi Belanda setelah Jepang mundur.

"Setelah proklamasi kita tetap berjuang karena Belanda datang lagi. Malah gabungan, ada Belanda ada Jepang," ujarnya.

Melihat rekannya ditembak atau gugur dalam pertempuran bukan hal asing bagi Hardijono. Namun ia bertekad merebut Indonesia dari para penjajah dengan penuh keberanian.

"Dulu berjuang itu tidak mikir gaji, ya berjuang. Ayo maju usir penjajah !" tegasnya.

Hardijono pada masa mudanya pernah bergabung dengan Angkatan Muda Kereta Api, Tentara Kemanan Rakyat dan sekarang TNI. Ia juga pernah memimpin pasukan dalam operasi Trikora untuk pembebasan Irian Barat.

Kini, Hardijono menghabiskan masa tuanya di tempat tinggalnya bersama anak dan cucu. Ia pun punya pesan kepada anak muda agar mempertahankan kemerdekaan serta berjuang untuk masa depan bangsa.

"Anak muda bersatulah, raih pendidikan. Kita harus lihat masa depan bangsa, harus ditingkatkan, jangan mau kalah dengan luar negeri. Jangan sebar fitnah lewat hp (handphone), jangan sembarangan anak diberi hp, belajar yang betul, harus awas dan waspada. Dan jangan narkoba," kata Hardijono.

Ia pun bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kamar untuk beristirahat. Sebelum berjalan, Hardijono mengepalkan tangan dan memekikkan sebuah kata, "Merdeka!"
(alg/mbr)
FOKUS BERITA: HUT RI Ke-73
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed