DetikNews
Senin 16 Juli 2018, 21:13 WIB

Polisi Semarang Selidiki Dugaan Penggelapan Pajak Karaoke

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Polisi Semarang Selidiki Dugaan Penggelapan Pajak Karaoke Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Semarang - Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Semarang menangani kasus dugaan penggelapan pajak tempat hiburan karaoke. Pihak Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) pun dimintai keterangan oleh kepolisian.

Kanit Tipikor Reskrim Polrestabes Semarang, AKP Ahmad membenarkan hal tersebut. Pihaknya melakukan koordinasi dan meminta keterangan instansi yang dulunya bernama Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Aset Daerah (DPKAD) itu.

"Dari DPKAD dipanggil untuk dimintai keterangan, pemetaan, dan koordinasi," kata Ahmad kepada wartawan saat dihubungi melalui telepon, Senin (16/7/2018).

Saat ini sasus dugaan pajak yang dilakukan tempat hiburan Zeus Executive Karaoke itu masih tahap pengumpulan bahan keterangan (Pulbaket) dan belum ada yang ditetapkan tersangka.

"Baru koordinasi Pulbaket dengan Pemkot bagian Kasda," tandasnya.

Ahmad menambahkan pihaknya juga berkoordinasi dengan bagian perlindungan perempuan dan anak (PPA) Polrestabes Semarang untuk menyidik dugaan adanya praktek prostitusi di karaoke tersebut.

"Ini gabungan (dengan PPA). Sementara yang sudah naik sidik prostitusinya, lebih detailnya ke PPA saja," tandasnya.

Penanganan kasus tersebut bermula dari laporan seorang pengusaha bernama Jefry Fransiskus (31) yang melaporkan rekan bisnisnya bernama Thomas, seorang WNA yang tinggal di Kabupaten Semarang.

Jefry menanamkan saham dalam mendirikan tempat hiburan Zeus Executive Karaoke bersama Thomas yang dipolisikan serta rekan bisnis lainnya yaitu Handoko, Tommy, dan Kristanto.

Ia mengatakan pada September 2017 dia sudah menerima modal investasi Rp 400 juta, namun janji keuntungan 10 persen dari saham tidak kunjung diterima.

"Keuntungan 10 persen dari saham yang saya tanam tidak pernah saya terima," kata Jefry.

Ia berusaha menanyakan kepada Thomas dan rekan bisnis lainnya namun katanya tidak ada keuntungan. Jefry kemudian berusaha mencari tahu dan menurutnya tempat hiburan itu sudah mendapatkan omzet Rp 25 miliar sejak April 2017 hingga Mei 2018.

"Sepeserpun saya tidak pernah menerima keuntungan sesuai saham yang saya tanam. Karena merasa ditipu, makanya saya lapor," ujarnya.

Jefry juga merasa tempat hiburan itu tidak membayar pajak dengan benar dan ada dugaan laporan pajak palsu. Selain itu Jefry juga mengadukan soal dugaan praktek prostitusi di tempat hiburan itu.

"Diduga membuat laporan pajak palsu supaya membayar pajak tidak sesuai dengan omzet. Pemkot dirugikan," ujarnya.

Laporan tersebut sudah tercatat dengan surat nomor : Rekom/19/VII/2018/SPKT/JTG/RESTABES. Dalam laporan tesebut tertulis korban tidak hanya pelapor tapi juga Pemkot Semarang.
(alg/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed