"Penjelasannya bahwa sampai kira-kira akhir bulan ini, selama masa kegiatan arus mudik dan balik Lebaran, kemungkinan embusan asap yang belakangan ini terjadi, bisa berpotensi muncul, tapi tidak berbahaya karena letusan freatik hanya embusan gas saja. Tapi kadang-kadang diikuti suara gemuruh tapi tidak membahayakan," kata Jonan, Kamis (7/6/2018).
Namun untuk dampak aktivitas Merapi terhadap angkutan udara atau penerbangan, Jonan menyebut hal itu tidak bisa diprediksi.
"Pertanyaannya penerbangan, taktikal, tergantung arah dan kecepatan angin. Kan bisa saja Merapi mengeluarkan embusan abu, itu Bandara Adisutjipto buka tapi Bandara Ahmad Yani tutup. Itu tidak bisa diprediksi, kapannya," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Imbauan tidak ada aktivitas pendaki atau masyarakat di wilayah tersebut," ujarnya.
Diketahui Gunung Merapi mengalami peningkatan aktivitas sejak 11 Mei 2018. Statusnya saat ini pun dinaikkan dari Normal ke Waspada.
Data dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), erupsi Merapi pada Mei-Juni 2018 tidak mengancam jiwa penduduk. Material yang dihasilkan juga kurang dari 100 ribu meter kubik dengan jarak lontaran material jatuhan radius 3 km. Letusan didominasi oleh aktivitas pelepasan gas dengan warna letusannya putih keabu-abuan, bukan wedus gembel atau awan panas.
Tinggi kolom letusan tanggal 11 Mei kemarin mencapai 5,5 km dan letusan terakhir tanggal 1 Juni yakni 6 km. Tinggi kolom tersebut tergolong kecil bila dibandingkan erupsi besar 2010 yang mencapai 12 km.
Letusan 2006 dan 2010 disertai prekursor atau gejala awal sebelum letusan. Namun letusan Mei-Juni 2018 tak disertai prekursor. Kemudian letusan Merapi 2006 menghasilkan material kurang dari 10 juta meter kubik dengan jarak luncur awan panas 7 km. Sementara letusan Merapi 2010 menghasilkan material 130 juta meter kubik dengan jarak luncur awan panas 15 km. (bgs/bgs)











































