Pria Ini Hidup Sebatang Kara, Sakit, dan Butuh Bantuan

Pria Ini Hidup Sebatang Kara, Sakit, dan Butuh Bantuan

Pertiwi - detikNews
Jumat, 27 Apr 2018 17:03 WIB
Pria Ini Hidup Sebatang Kara, Sakit, dan Butuh Bantuan
Foto: Pertiwi/detikcom
Magelang - Ismail (45) warga Kabupaten Magelang ini menjalani hidup yang terbilang sangat menyedihkan. Warga Dusun Demo, Desa Banyudono, Kecamatan Dukun itu tidak hanya sebatang kara tanpa sanak saudara, namun juga menderita penyakit kanker ganas.

Untuk menyambung hidupnya, Ismail hanya mengandalkan uluran tangan dari tetangga. Terkadang, Ismail sulit untuk diajak berkomunikasi lantaran dirinya hanya mampu terpejam akibat sakit yang dideritanya.

Kepala Dusun Demo, Rohmad Widodo (43) menuturkan, Ismail tinggal di rumah peninggalan neneknya sejak tahun 1990.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebelumnya, Ismail tinggal bersama orang tuanya di Kalimantan. Setelah orangtuanya meninggal, Ismail kemudian dibawa oleh nenek dan bibinya ke sini (Magelang)," jelas Rohmad.

Sekitar tahun 2011, nenek Ismail meninggal dunia, disusul bibinya di tahun 2016 lalu. Kondisi tersebut memaksa Ismail untuk hidup sendiri tanpa keluarga. Hal itu kemudian membuat kondisi kesehatannya terus menurun.

Warga masyarakat yang prihatin dengan kondisi Ismail kemudian berinisiatif memeriksakan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muntilan. Hasilnya, Ismail divonis menderita kanker pada bagian leher kanan dan pangkal antara kedua matanya.

"Kondisi tersebut membuat penglihatan Ismail tidak berfungsi 80 persen. Sementara bagian leher bawah telinga kanannya juga membengkak dan sering terasa sakit," ungkap Rohmad.

Pihak rumah sakit sempat menyarankan agar Ismail dibawa ke Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta karena peralatan disana lebih memadai.

"Meskipun Ismail sudah kami buatkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) namun yang kami khawatirkan adalah biaya lain-lain diluar KIS termasuk orang yang menungguinya," ujar Rohmad.

Beberapa waktu terakhir, penyakit Ismail semakin menjadi dan membuatnya sering mengeluh. Makanan sudah tidak bisa masuk kedalam tubuhnya.

"Setiap diberikan makanan pasti muntah dan disertai darah keluar dari hidung," terangnya.

Sementara ini, warga bergotong royong membantu meringankan beban Ismail. Ada kalanya warga memberikan makanan, hingga iuran untuk biaya pengobatan.

"Sebenarnya dia tidak mau diperiksakan ke dokter, namun warga secara sukarela dan gotong royong iuran untuk pengobatannya," kata Rohmad.

Sampai saat ini, warga telah mengumpulkan iuran sebesar Rp 2 juta yang akan dipergunakan untuk menyewa trasportasi dan memberi upah salah satu warga untuk menjaga Ismail.

"Semua sudah kami pikirkan, hanya saja kami belum tahu kondisi ini akan belangsung sampai kapan, karena anggaran donatur dari warga pasti akan menipis dan terbatas. Kami berharap dari pihak terkait mau untuk
membantu Ismail," tandas Rohmad. (bgs/bgs)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini