DetikNews
Jumat 27 April 2018, 08:29 WIB

Begini Semangat Zufron, Tuna Netra Pelatih Gamelan dari Kudus

Akrom - detikNews
Begini Semangat Zufron, Tuna Netra Pelatih Gamelan dari Kudus Foto: Akrom Hazami/detikcom
Kudus - Semangatnya yang tak mengenal batas, membuat ia mempunyai keahlian yang tak dimiliki orang normal. Tak tanggung-tanggung, kemampuannya adalah menjadi instruktur/pelatih alat musik tradisional gamelan di Kudus.

Adalah Muhammad Zufron, seorang tuna netra hebat. Pria kelahiran 11 April 1968 ini mengajarkan kemampuan bermain gamelan kepada muridnya para penyandang tuna netra lain di Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Netra (PPSDN) Pendowo Kudus.

Ditemui Detikcom di PPSDN Jalan Pendowo nomor 10 Mlati Lor, Kudus, Imron, panggilannya, membeberkan rahasia kepiawaiannya memainkan gamelan.

"Gamelan itu mudah. Asal serius berlatih," ungkapnya, Jumat (27/4/2018).

Menurut warga Jalan Veteran nomor 34 A Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus, jika sudah punya rasa ketertarikan pada alat gamelan, maka sama saja mempercepat proses belajar. Hal itu merupakan pengalamannya selama mengajari bermain gamelan anak didiknya.

Di asrama ini, para anak didik, atau biasa disebut penerima manfaat (PM) mempunyai waktu belajar gamelan seminggu sekali. Yaitu hanya Jumat saja di Ruang Karawitan.

"Belajar gamelan berupa satu lagu bisa lancar ya sekitar dua kali pertemuan," jelas Imron.

Di antara metode yang diajarkan pada anak didiknya adalah, harus punya minat lebih dulu. Saat ini, dari jumlah PM di asrama 46 orang, hanya 10 orang yang berminat belajar gamelan Jawa. Seperti gamelan dengan alat pukul dua, misal gambang, gender, bonang, sampai dengan alat pukul satu macam kendang, saron dan lainnya.
Anak ddik Imron berlatih kendangAnak ddik Imron berlatih kendang Foto: Akrom Hazami/detikcom

Imron juga mengungkapkan beberapa hal penting dalam mengajari sesama tunanetra bermain gamelan. Kalau orang normal, bisa diajarkan bareng-bareng dengan cara menuliskan not di papan, lantas dimainkan. Kalau mengajari main gamelan dengan anak didik tunanetra, instruktur harus mengajari mereka satu persatu. Dengan didekati, kemudian diajarkan.

Beberapa lagu yang dia mainkan bareng anak didik adalah lagu Manyar Sewu, Kebo Giro, Gugur Gunung, Ricik-ricik, dan Singo Barong.

"Gamelan atau alat musik lainnya adalah kemampuan tambahan pilihan bagi para penerima manfaat selain mahir memijat," terangnya.

Dia sendiri belajar gamelan serta alat musik lain sejak kecil. Yang dipelajarinya sejak berada di panti sosial yang pernah jadi tempatnya belajar. Mulai dari Pemalang, Semarang, Bandung, hingga Kudus.

Tidak heran kemampuannya memainkan gamelan pernah mengantarkannya ke sejumlah negara Asia, Eropa dan Afrika. Dengan beberapa negara di antaraya, Italia, Perancis, Tiongkok, Australia, Jepang, Maroko, dan lainnya.


Dengan mengingat tajam, Imron menuturkan, saat keliling dunia itu dia berada pada satu tim asal Indonesia. Anggotanya, seluruhnya normal. Hanya dia yang tuna netra. "Kami bawa misi kebudayaan Indonesia, antara tahun 1996 hingga 2000.

Di panti ini, sesuai SK, Imron jadi bapak asrama atau pengasuh. Sehari-hari dia mengajar atau jadi instruktur baca tulis braile, dan instruktur kesenian. Tidak hanya gamelan, dia juga mengajarkan berbagai alat musik band mulai drum, keyboard dan, gitar.


Salah satu anak didiknya, Rohman, (17) mengaku, bermain gamelan karena punya minat yang besar. "Saya memang berminat main gamelan," kata Rohman yang berasal dari Undaan, Kudus.

Candra Yuliawan, Kepala PPSDN Pendowo Kudus mengatakan, sosok Imron atau Zufron merupakan salah satu pengasuh di tempatnya. "Dengan kemampuannya yang berguna untuk mereka, penerima manfaat," katanya.
(bgs/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed