DetikNews
Selasa 17 April 2018, 14:25 WIB

Benda Ini Hanya Tiap 8 Tahun Sekali Ikut Labuhan Merapi

Ristu Hanafi - detikNews
Benda Ini Hanya Tiap 8 Tahun Sekali Ikut Labuhan Merapi Foto: Ristu Hanafi/detikcom
Sleman - Memperingati Tingalan Jumenengan Dalem atau kenaikan tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X, Keraton Yogyakarta menggelar upacara adat Labuhan Ageng di Gunung Merapi, Sleman. Tradisi Labuhan Ageng hanya digelar setiap 8 tahun sekali atau bertepatan dengan tahun Dal penanggalan Jawa.

Labuhan ageng berbeda dengan labuhan alit yang dilaksanakan tiap tahun sekali. Ada satu benda yang hanya dikeluarkan khusus ketika Labuhan Ageng di Merapi.

"Tahun ini masuk tahun Dal, abdi dalem Keraton Yogyakarta menggelar Labuhan Ageng Merapi. Dibawa Kambil Watangan atau Pelana Kuda yang khusus dikeluarkan tiap 8 tahun sekali. Kalau tahun-tahun biasa juga digelar labuhan tapi Labuhan Alit, prosesinya sama, tapi Pelana Kuda tidak dikeluarkan," kata juru kunci Hargo Merapi, Kliwon Suraksohargo atau Mas Asih, putera almarhum Mbah Maridjan, Selasa (17/4/2018).

Mas Asih menjelaskan singkat sejarah Pelana Kuda yang dikirab dalam Labuhan Ageng di Merapi ini.
Prosesi Labuhan Ageng di Sri Manganti Gunung MerapiProsesi Labuhan Ageng di Sri Manganti Gunung Merapi Foto: Ristu Hanafi/detikcom

"Cerita dari nenek moyang dulu, Eyang Megantoro hobi memelihara kuda. Dan pelana kuda ini sebagai simbol, dari Keraton," ucapnya.

Upacara Labuhan Ageng di Merapi diawali prosesi penyerahan uba rampe Labuhan Ndalem dari Keraton Yogyakarta kepada juru kunci Hargo Merapi untuk disimpan di Petilasan Hargo Ndalem (Petilasan Mbah Maridjan), di Desa Kinahrejo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Senin (16/4) kemarin.

Uba rampe terdiri dari Sinjang Limaran, Sinjang Cangkring, Semekan Gadung, Semekan Gadhung Mlati, Peningset Udaraga, Seswangen, Seloratus, Lisah Konyoh, Kembang Setaman, Yotro Tindih, Destar Doromuluk. Kemudian dilanjutkan gelar budaya, wilujengan, kenduri, pagelaran wayang kulit, dan doa bersama.

Pagi tadi, pukul 06.30 WIB uba rampe Labuhan Ageng dikirab berjalan kaki dari Petilasan Hargo Ndalem menuju Sri Manganti di lereng Merapi, berjarak sekitar 1,5 kilometer, dengan diawali doa bersama. Sesampai di Sri Manganti digelar kembali doa bersama, dilanjutkan ritual adat dan diakhiri dengan pembagian sedekah.
Pelana kuda hanya dibawa tiaplabuhan ageng 8 tahun sekaliPelana kuda hanya dibawa tiaplabuhan ageng 8 tahun sekali Foto: Ristu Hanafi/detikcom

Peserta Labuhan Ageng merupakan abdi dalem Hargo Merapi, warga dan pemerintah setempat, masyarakat umum, dengan pengamanan dari relawan tim SAR serta personel TNI/Polri.

"Kita berdoa bersama untuk kesejahteraan masyarakat dan wilayah lereng Merapi khususnya, serta dan Yogyakarta pada umumnya. Upacara adat budaya ini juga untuk memberitakan kepada kawula muda agar paham tentang budaya dan tradisi peninggalan leluhur sehingga bisa melestarikannya ke anak cucu," jelas Mas Asih.
(bgs/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed