detikNews
Jumat 13 April 2018, 09:08 WIB

Nasib Tukang Foto Menara Kudus di Tengah Gempuran Kamera Ponsel

Akrom Hazami - detikNews
Nasib Tukang Foto Menara Kudus di Tengah Gempuran Kamera Ponsel Tukang foto di Menara Kudus menawarkan jasanya. Foto: Akrom Hazami/detikcom
Kudus - Beberapa tukang foto tampak menghampiri anggota rombongan peziarah di makam Sunan Kudus di kawasan Menara Kudus. Mereka menawari jasa foto dengan latar belakang bangunan Menara Kudus, atau bangunan bersejarah lain di kawasan itu.

"Monggo pak, bu, fotonya. Bisa dengan background Menara, masjid (Masjid Al Aqsha), atau pintu gapura," tawar salah satu tukang foto Menara Kudus, di kawasan Menara Kudus, Kamis (12/4/2018) siang.

Mereka tak menyerah meski beberapa kali mendapatkan penolakan. Bahkan ada pula yang malah dimintai tolong untuk memotretkan peziarah, menggunakan kamera telepon seluler (ponsel) pribadi.
Rupanya hal itu kerap terjadi dan dialami oleh para tukang foto Menara Kudus. Biasanya memotretkan peziarah menggunakan kamera ponsel merupakan bagian dari pekerjaan yang mereka lakoni.

"Kadang kami malah dimintai tolong memotretkan peziarah pakai kamera ponsel mereka. Tapi kami tetap berusaha agar mereka memakai jasa kami juga, memotret pakai kamera kami, " kata Eko Setiawan, salah satu tukang foto Menara Kudus.

Eko bersama teman tukang foto di Menara Kudus tergabung dalam satu wadah organisasi. Yaitu Paguyuban Fotografer Menara Kudus (PFMK) yang memiliki 30 anggota.

Namun kini anggota PFMK yang aktif hanya separuhnya. Biasanya semua anggota baru keluar ketika hari-hari ramai peziarah. Seperti halnya Sabtu dan Minggu, dan Ruwah (Syaban).

"Ramainya ya pas Sabtu dan Minggu itu. Juga nanti pas Ruwah," ujarnya.

Pria yang bergabung PFMK sejak 2009 ini menjelaskan, anggota tak pernah sekalipun memaksa peziarah agar mau memakai jasa fotonya. Diakuinya jika keberadaan ponsel berkamera berdampak pada pendapatannya.

Aksi tukang foto di Menara Kudus.Aksi tukang foto di Menara Kudus. Foto: Akrom Hazami/detikcom

Dulu sebelum marak ponsel dengan kamera, dia dan rekannya bisa mengantungi pendapatan kurang lebih Rp 150 ribu per hari.

"Ada HP yang berkamera memang berdampak pada kami (pendapatan). Hanya sedikit kok dampaknya. Pendapatan kami berkurang, ya sekarang rata-rata Rp 100 ribu per orang," bebernya.

Meski demikian, banyak juga peziarah Makam Sunan Kudus yang lebih senang menggunakan jasa foto tukang foto. Terutama peziarah yang datang dan ingin berfoto bareng rombongan. Sebab jika mereka memotret rombongan pakai kamera ponsel, merasa kurang puas.

Pendapatan itu sudah termasuk nilai bersih yang mereka dapatkan. Setelah dibagi dengan pemilik kamera. Kadang pembagiannya 60%:40%, atau 50%:50%.

Di kawasan Menara Kudus ada sekitar 6 studio. Mereka melayani cetak foto 30 anggota PFMK. Dengan waktu cetak rata-rata 2 menit per lembar foto.

"Kadang ada juga yang minta dicetak lebih dari 1. Kalau sampai banyak yang dicetak, ada potongan harga," ujarnya.

Adapun untuk biaya jasa foto dengan 1 cetak foto ukuran 5R harganya Rp 10ribu, 10R Rp 20 ribu, dan Rp 40ribu ukuran 20R. Ukuran tersebut merupakan yang sering diminta peziarah.

Nasib Tukang Foto Menara Kudus di Tengah Gempuran Kamera PonselFoto: Akrom Hazami/detikcom

Dia juga menyinggung soal aturan atau kesepakatan antaranggota PFMK dalam bekerja. Yaitu aktivitas memotret harus berhenti saat waktu salat tiba yang ditandai azan hingga jamaah salat di Masjid Al Aqsha selesai. Selain itu juga dilarang motret saat Kamis sore mulai sekitar pukul 16.30 WIB hingga malam Jumat.

"Malam Jumat biasanya banyak peziarah lokal atau warga setempat," ucapnya.

Mereka juga wajib berhenti memotret setiap Jumat mulai pukul 10.30 WIB sampai jamaah salat Jumat selesai. Itu di antara aturan yang wajib dilakukan para tukang foto Menara Kudus. Bagaimana kalau itu dilanggar? Rupanya mereka telah menyiapkan sanksi bagi tukang foto Menara Kudus yang melanggar.

"Melanggar akan didenda bayar Rp 300ribu. Itu kesepakatan bersama," tandas Eko.

Anggota PFMK lain, Wahyul Huda (23), mengaku menggeluti pekerjaanya sebagai tukang foto Menara Kudus sejak 2012. Dalam kurun itu, dirinya telah merasakan suka dan dukanya menjadi tukang foto Menara Kudus.

"Dukanya paling saat hujan deras. Pasti tidak bisa motret. Kalau pas hujan gerimis masih bisa motret tapi payungan," ungkapnya.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com