IAIN Salatiga Tak Permasalahkan Mahasiswi Pakai Cadar

Eko Susanto - detikNews
Rabu, 07 Mar 2018 20:53 WIB
Foto: Eko Susanto/detikcom
Salatiga - Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, tidak mempermasalahkan keberadaan mahasiswi yang memakai cadar sebatas untuk menutup aurat. Terlebih lagi dalam Surat Keputusan (SK) Dirjen Pendidikan Islam tidak mengatur tentang hal tersebut.

"IAIN Salatiga sesungguhnya, visi kita menjadi rujukan studi Islam di Indonesia. Nah visi itu, terjemahannya adalah bahwa kita sebenarnya lebih mengedepankan pada nilai-nilai budaya Islam yang ada di Indonesia," kata kata Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan IAIN Salatiga, Agus Waluyo sebelum mengikuti Workshop Peningkatan Mutu Perguruan Tinggi Menyongsong Akreditasi Perguruan Tinggi Unggul di Bandungan, Rabu (7/3/2018), sore.

"Oleh karena itu, terkait dengan cadar, terkait dengan pakai-pakaian yang sesungguhnya itu "beda" dengan masyarakat umum. Selama itu, bisa dipahami sebagai budaya bangsa tidak ada masalah, tapi kalau cadar bahwa dipahami sebagai sebuah ideologi yang kemudian jauh dengan nilai-nilai budaya bangsa, maka tentu sebenarnya kita juga kurang sepakat," lanjut dia.

Baginya, kalau selama mahasiswa IAIN Salatiga, memakai cadar tidak mengembangkan ideologi tertentu, sebenarnya tidak ada masalah.

"Jadi yang terpenting sesungguhnya adalah pemahaman mahasiswa terkait dengan budaya-budaya bangsa terkait Islam Indonesia itu menjadi tolak ukur bagi kami. Boleh atau tidaknya memakai cadar. Intinya pemakaian cadar itu, selama pemakaianya memahami bahwa budaya memakai cadar adalah sebagai budaya Indonesia maka nggak ada masalah. Tapi jika dalam memakai cadar dalam rangka mengembangkan ideologi tertentu dari negara lain, maka ini tentu kami dari pimpinan IAIN Salatiga akan mengupayakan kepada mahasiswi-mahasiswi itu untuk ya sekadar pembinaan," tuturnya.

"Prinsipnya, kami tidak menolak terkait cadar itu, tetapi harus dipahami ketika siap masuk di IAIN Salatiga memahami bahwa visi kami adalah menjadi rujukan Islam Indonesia. Yang, itu artinya setiap mahasiswa, civitas akademika itu menjunjung tinggi budaya-budaya yang berlaku dalam masyarakat Indonesia, dari terkait dengan pakaian dan sebagainya."

Adapun mahasiswi yang memakai cadar, katanya, saat ini ada yang memakai cadar, tapi tidak cadar secara pakaian seperti cadar di Arab Saudi.

"Ya masyarakat kampus itu memang sebenarnya tidak mengizinkan maupun tidak melarang dan juga tidak mengimbau maupun lainnya karena sesungguhnya merupakan ya kebiasaan pribadi-pribadi mahasiswi. Dan terpenting adalah bahwa pun memakai cadar, tetapi tidak membawa ideologi tertentu, jadi pemahamannya bukan karena oh ini ideologi dari Saudi Arabia, saya bawa ke sini, saya pengin seperti mereka, bukan itu, tapi adalah bahwa mereka masih menyadari bagian dari bangsa Indonesia, warga negara Indonesia, pemakaian cadar dalam rangka sebagai bagian dari penutup aurat," tuturnya.

Mahasiswa yang memakai cadar karena untuk menutup aurat, kata dia, tidak masalah, maka belum dipandang perlu untuk membuat sebuah imbauan atau edaran terkait dengan pemakaian cadar.

"Khusus pakaian bercadar belum ada aturan resmi dari Dirjen. Jadi kita, sesungguhnya lebih mengacu pada aturan di atasnya. Selama ada aturan di atasnya, ada mengatur tentang pakaian kita ikuti," tegasnya. (bgs/bgs)