Dari pantauan, posko kesehatan dan dapur umum berada di balaidesa. Terdiri dari BPBD, Dinas Kesehatan, Pramuka dan TNI-Polri.
Masih ada warga korban banjir di 8 RW masih menetap di rumah masing-masing. Sedangkan beberapa di antaranya mengungsi di rumah kerabat dan tetangga yang layak ditempati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khumairoh (45) warga korban banjir Desa Sayung mengatakan bahwa banjir yang melanda sejak tiga bulan terakhir membuat sejumlah bahan pokok sulit didapat.
"Kalau memasak seadanya dari bahan yang tersisa, itupun sulit karena air masuk ke dalam rumah dan gas elpiji sulit didapat," katanya kepada detikcom di rumahnya, Kamis (15/2/2018)
Ia menambahkan, memilih menetap di rumahnya meski harus bergelut dengan air. Akibatnya, mengalami gatal-gatal.
"Ya di rumah. Tapi mulai gatal-gatal karena terkena air (banjir) terus," paparnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Demak Agus Nugroho menyampaikan bahwa bantuan logistik masih terus dilakukan. Sedangkan makanan untuk warga dipasok dari dapur umum.
"Kami siapkan 100 ton beras milik Bupati bantuan dari pemerintah pusat. Beras ini dimasak tiap harinya minimal 3.000 bungkus," ujarnya.
Bantuan nasi bungkus akan dilakukan sejak hari ini sampai 21 Februari 2018. Namun, jika kondisi masih memerlukan bantuan, akan diperpanjang.
"Kalau tidak mencukupi kami akan mengajukan bantuan ke provinsi untuk beras. Selain itu, bagi yang terkena sakit gatal-gatal dan lainnya kami siapkan posko kesehatan bekerjasama dengan Dinkes," imbuh dia.
Bupati Demak, HM Natsir mengaku sudah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pamali Juwana untuk melakukan normalisasi Sungai Sayung Dombo.
"Selain merencanakan membangun sabuk desa, kami minta ada normalisasi sungai. Karena salah satu penyebab banjir karena sedimentasi sungai," kata Natsir. (sip/sip)











































