DetikNews
Selasa 13 Februari 2018, 14:27 WIB

Sempat Nyantri di Magelang, Penyerang Gereja Dikeluarkan dari Ponpes

Pertiwi - detikNews
Sempat Nyantri di Magelang, Penyerang Gereja Dikeluarkan dari Ponpes Kompleks Ponpes Sirojul Mukhlasin II, Kabupaten Magelang. Foto: Pertiwi/detikcom
Magelang - Pelaku penyerangan Gereja Santa Lidwina, Suliono (23) diketahui sempat menjadi santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Sirojul Mukhlasin Payaman II di Desa Krincing, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Namun demikian, ketika melanjutkan ke Ponpes Sirojul Mukhlasin Payaman I di Payaman, Suliono dikeluarkan oleh pihak ponpes.

Kepala Madrasah Ponpes Sirojul Muhlasin Payaman I, Hanafi mengungkapkan, Suliono lebih dulu mondok di Ponpes Sirojul Muhlasin Payaman II Krincing, Secang selama 2 tahun sejak 2015 lalu. Kemudian, memasuki kelas III, sesuai aturan di ponpes, santri dipindahkan ke madrasah yang ada di Payaman, Secang pada Juli 2017 lalu.

"Baru sekitar 5 bulan di Payaman I, dia dikeluarkan karena tidak tertib dan tidak disiplin. Selain itu, dia juga jarang mengaji sesuai jadwal yang diterapkan pondok," ungkap Hanafi kepada wartawan, di Kompleks Ponpes Sirojul Muhlasin Payaman I di Desa Payaman, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Selasa (13/2/2018).

Dia melanjutkan, dari penuturan para santri, selama di Krincing, Suliono juga dikucilkan karena sering membahas doktrin jihad yang diperolehnya di Palu. Sebelum masuk Sirojul Muhlasin, Suliono diketahui pernah sekolah dan kuliah di Palu.


"Kita tidak tahu dia dapat doktrin apa di Palu," kata Hanafi.

Karena doktrin yang tidak sesuai dengan ajaran di ponpes, Suliono lebih banyak dikucilkan oleh teman-temannya. Ia juga diketahui sering melihat video dan buku tentang jihad.

Atas peristiwa penyerangan Gereja yang dilakukan oleh Suliono, Hanafi mengaku kaget dan tidak menyangka sama sekali. Dirinya baru tahu setelah ada intel Polda Jateng yang mendatanginya dan menanyakan tentang Suliono.

"Saat itu saya tidak tahu Suliono. Namun setelah diperlihatkan video, saya baru paham bahwa orang itu adalah Abdul Hadi," tuturnya.

Menurut Hanafi, di ponpes ada semacam tradisi, bahwa setiap santri yang masuk masih bernama Jawa atau nasional, maka minta diganti dengan nama yang lebih Islami. Suliono memilih mengganti nama menjadi Abdul Hadi.

Penggantian nama juga tidak pernah dipaksa oleh pihak ponpes. Karena rata-rata santri mulai memahami akan pentingnya nama.




"Saya sangat menyayangkan perilaku Suliono yang bisa mencemarkan nama baik ponpes. Apalagi sejak berdiri 105 tahun lalu, baru sekali ada kejadian seperti itu," jelasnya.

Atas kejadian ini, Hanafi berinisiatif akan melakukan seleksi lebih ketat terhadap santri yang akan masuk ponpes.

Diwawancara terpisah, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Sirojul Mukhlasin Payaman II, Muamar, menegaskan bahwa di ponpesnya tidak pernah mengajarkan paham radikalisme.

"Doktrin yang kami berikan adalah kasih sayang, kultur dan amalan nahdliyin. Walaupun penampilan berjenggot semua tapi kami ramah kepada siapapun," tutur Muamar kepada wartawan di kediamannya di komplek Ponpes Sirojul Mukhlasin Payaman II, di Desa Krincing, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang.

Sejak berdiri tahun 1997 silam, Muamar mengatakan bahwa ponpesnya tidak pernah bermasalah dengan lingkungan sekitar, apalagi terlibat kasus terorisme. Ponpes juga terbuka bagi masyarakat umum, dibuktikan dengan didirikannya sekolah dari tingkat PAUD, TK, SD, SMP sampai SMK di dalam komplek ponpes tersebut.

"Yang kita ajarkan ajaran kasih sayang sesama umat Islam, menghormati non-muslim. Kami juga pasang bendera (Indonesia). Tidak ada kekerasan, apalagi radikal, kami sering bersilaturahim dengan warga sekitar, kami juga punya sekolah," ujarnya.

Muamar mengakui Suliono pernah tercatat sebagai santrinya pada tahun 2015-2017. Namun, dia sendiri tidak mengenal sosok pemuda asal Banyuwangi, Jawa Timur itu. Secara perilaku maupun prestasi juga tidak menonjol dibanding santri lainnya.


"Saya tidak tahu persis kondisi anaknya seperti apa, saya tidak mengajar dia jadi tidak paham, karena banyak santri kami ada ribuan," sambungnya.

Muamar juga mengaku tidak tahu latar belakang kehidupan Suliono sebelum masuk ke ponpesnya.

"Dia datang ke sini mendaftar sebagai santri lulusan SMA, datang untuk belajar, latar belakangnya tidak tahu, kita juga tidak minta surat keterangan kelakuan baik dari kepolisian. Hanya kartu identitas dan syarat administrasi lainnya saja," paparnya.

Dia menyebutkan, ponpesnya dihuni sekitar 1.800 santri putra dan sekitar 1.000 santri putri. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan dari negara-negara tetangga.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed