Dia adalah siswa MA Hidayatul Atfal, Banyurip, Pekalongan. Opi tinggal bersama keluarganya di Banyurip, RT 3/RW 2, Pekalongan Selatan ini.
Saat hari sekolah pun, Opi Windasari ini juga sambil berjualan saat jam istirahat. Namun bukan jamu yang dijual melainkan sosis bakar dan makanan kecil lainnya. Jarak rumah dengan sekolah yang dekat, dia pulang sebentar untuk melayani teman-temanya yang akan membeli.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opi jualan jamu keliling Foto: Robby Bernardi/detikcom |
"Pas awal liburan, ibu berangkat jualan. Di tengah jalan kata orang, ibu kakinya sakit tidak bisa berjalan. Saya susul dan bawa pulang dan saya lanjutkan jualan jamu keliling," kata Opi saat ditemui detikcom, Jumat (29/12) di rumahnya.
Sejak saat itulah, Opi meminta ibunya untuk berhenti jualan dan dia yang menggantikan berjualan jamu keliling kampung.
"Saya tidak tega melihat mamak (Ibu) yang kakinya sakit tapi masih berjualan. Saya suruh mamak di rumah saja," katanya.
Menurutnya sudah sepekan ini menggantikan ibunya berjualan jamu keliling kampung. Bahkan, dia menginginkan ibunya untuk tidak jualan jamu lagi.
Jualan jamu di sekitar pasar Foto: Robby Bernardi/detikcom |
Dia mengatakan persiapan untuk membuat jamu bukanlah hal yang cepat. Namun membutuhkan waktu yang cukup lama hingga siap dijual.
"Saya buat jamu sejak pukul tiga pagi. Proses pembuatanya sampai pukul setengah tujuh. Jam tujuh jualan sampai jam satu," tutur Opi.
Jamu yang dijual pun beraneka macam, mulai dari jamu buatan sendiri seperti, jamu beras kencur, kunir, gula asem, suruh, pait, sambiroto, hingga jamu siap seduh.
Menggunakan sepeda dia berkeliling di sekitar Pasar Banyurip dan perkampungan. (bgs/bgs)












































Opi jualan jamu keliling Foto: Robby Bernardi/detikcom
Jualan jamu di sekitar pasar Foto: Robby Bernardi/detikcom