DetikNews
Jumat 22 Desember 2017, 13:14 WIB

Tangan Terampil Kaum Ibu di Jepara Saat Produksi Genteng

Wikha Setiawan - detikNews
Tangan Terampil Kaum Ibu di Jepara Saat Produksi Genteng Foto: Wikha Setiawan/detikcom
Jepara - Produk genteng di Desa Mayonglor Kecamatan Mayong Kabupaten Jepara masih paling dicari untuk kebutuhan bangunan. Kualitas yang baik menjadi alasan masyarakat memilih menggunakan produk genteng Mayonglor, Jepara.

Tangan Terampil Kaum Ibu Di Balik Produksi Genteng Mayong

Jepara - Produk genteng di Desa Mayonglor Kecamatan Mayong Kabupaten Jepara masih paling dicari untuk kebutuhan bangunan. Kualitas super yang menjadi alasan genteng Mayonglor menjadi unggul.

Produksi genteng tersebut sebagian besar dikerjakan perempuan. Hampir semua warga desa ini bekerja sebagai pembuat genteng. Mereka bekerja seperti halnya yang dikerjakan dari kaum laki-laki. Mulai dari penggilingan bahan baku tanah liat, pengeringan sampai percetakan. Untuk pembakaran biasanya dilakukan oleh laki-laki.

Salah satunya adalah Darmiyatun (60) Desa Mayonglor RT 1/RW 7 yang sudah menjadi perajin genteng sejak 20 tahun lamanya.

"Awalnya punya buruh tapi mereka sudah keluar dan membuka rumah produksi genteng sendiri," katanya kepada detikcom di rumahnya, Jumat (22/12/2017)

Membuat genteng menurutnya berat, apalagi usianya masuk kepala enam. Mulai dari menggiling tanah, mencetak, mengeringkan sampai proses pembakaran.

"Berat, mas. Itu tanah kan harus dilembutkan lebih dulu, baru bisa dicetak. Kalau kasar hasilnya tidak bagus," paparnya.

Dalam sehari, ia mampu memproduksi sekitar 400 buah genteng. Genteng tersebut di rapikan di suatu tempat sebelum proses pengeringan.

"Setelah kering dibersihkan atau dirapikan baru kemudian dibakar. Waktu pembakaran membutuhkan 6 hari baru bisa dibongkar dan dipasarkan," lanjutnya.

Kemampuan Darmiyatun membuat genteng tersebut juga diturunkan kepada anak perempuannya, Atminah (30). Dia yang meneruskan usaha keluarga tersebut.

"Sekarang Atminah sudah membuka rumah produksi sendiri. Karena sudah bersuami," ucapnya.

Sementara Atminah mengaku produksi genteng memang sudah menjadi lahan pekerjaan bagi warga di desanya.

"Sudah tidak banyak yang mau menjadi pengrajin genteng karena memilih ke pabrik. Jadi, saya menangkap peluang ini untuk melanjutkan usaha pembuatan genteng," ungkap dia.

Genteng yang diproduksinya dipasarkan melalui pengepul yang ada di desanya.

"Sudah ada pengepulnya. Jadi, selesai dibuat langsung ada yang mengambil," imbuhnya.

Kasi Kesra Desa Mayonglor, Sukirno menuturkan bahwa 30 persen dari pengrajin genteng di desanya adalah kaum ibu. Selayaknya laki-laki, perempuan di sini bekerja memproduksi genteng sebagian besar mulai proses dari awal sampai cetakan. Sebagian kecil lagi untuk mengerjakan bagian finishing.

"Ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Satu, karena kekurangan tenaga kerja. Dua, lebih menguntungkan jika itu dikerjakan sendiri tanpa ada karyawan," ujarnya.

Harga genteng saat ini mulai dari Rp 900 sampai Rp 1.100 per buah.

"Harga itu cukup tinggi. Tapi juga diimbangi bahan baku yang tinggi juga. Tanah satu dam truk biasanya Rp 250 ribu sekarang Rp 300 ribu sampai Rp 350 ribu. Faktornya karena musim hujan," jelasnya.

Satu dam truk, Sukirno menerangkan, dapat diprodukso menjadi 1000 sampai 2000 buah genteng.

"Itu tergantung ukuran. Di sini memproduksi genteng ukuran standar dan jumbo," tandasnya.
(bgs/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed