"Pasien sekarang sudah dirujuk di RSU Kariadi pada hari, Senin kemarin," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Boyolali, Sherly Jeanne Kilapong, Selasa (19/12/2017).
Saat ini, penyakit yang diderita siswa kelas IV SD itu masih suspect difteri. Untuk kepastiannya, masih menunggu hasil tes laboratorium RSU Kariadi. Meski demikian, pola penanganan anak asal Ngadirojo, Ampel tersebut diberlakukan sebagai pasien penyakit difteri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Sherly, Dinkes sudah melakukan penyelidikan epidemiologis sambil menunggu hasil tes laboratorium RSU Kariadi Semarang, apakah benar terduga Difteri, positif difteri, akan dilakukan ORI (Outbreak Response Immunization).
"Sekarang dalam tahap persiapan. Barusan kami rapatkan dengan Direktur RS dan Kepala Puskesmas se-Boyolali untuk menyiapkan," ujarnya.
Pemberian imunisasi difteri tersebut untuk semua sasaran anak dari usia 2 bulan sampai kurang dari 19 tahun. Namun untuk yang sudah mendapatkan imunisasi sesuai umur, tidak diberikan.
Sementara Kepala Dinkes Boyolali, Ratri S. Survivalina, menambahkan penyakit yang diderita seorang anak asal Ampel yang kini dirawat di RSU Kariadi, itu mengarah ke difteri.
"Namun untuk kepastiannya menunggu hasil tes laboratorium. Hasilnya positif atau tidak, menunggu tes laboratorium itu," terang Ratri.
Dijelaskan Ratri, stok atau persediaan vaksin difteri. Untuk imunisasi Difteri (DPT) per bulan Desember 2017 ada 1.268 vial dengan jumlah sasaran 1.217 anak, dengan kebutuhan idealnya 608 vial.
"Artinya masih cukup aman. Kalau untuk vaksin TD (tetanus difteri) masih ada 750 vial. Kalau yang ini sasarannya anak sekolah dalam rangka BIAS (bulan imunisasi anak sekolah)," pungkasnya.
(bgs/bgs)










































