Cuaca Buruk, Nelayan Rembang Pilih Pulang Awal

Cuaca Buruk, Nelayan Rembang Pilih Pulang Awal

Arif Syaefudin - detikNews
Selasa, 19 Des 2017 14:38 WIB
Cuaca Buruk, Nelayan Rembang Pilih Pulang Awal
Foto: Arif Syaefudin/detikcom
Rembang - Cuaca buruk di perairan Indonesia mengakibatkan nelayan Kabupaten Rembang, Jawa Tengah memilih pulang melaut lebih awal. Ombak tinggi bisa merusak kapal. Mereka memilih lego jangkar atau berlabuh di pelabuhan.

Seperti Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Desa Tasikagung, Kecamatan Kota Rembang, Selasa (19/12/17) nampak dipadati ratusan kapal nelayan yang bersandar di sepanjang dermaga. Beberapa nelayan terlihat sibuk menurunkan muatan dari lambung kapal.

Para nelayan ini mengaku, lebih memilih untuk pulang lebih awal saat melaut karena cuaca yang buruk. Mereka takut jika terjadi musibah saat di tengah laut, karena ombak yang tinggi bisa merusak kapal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu nelayan asal Desa Pandean Kecamatan Kota Rembang, Putra mengaku jika dipaksakan untuk melaut, risiko terjadinya kecelakaan laut akan lebih besar. Meskipun jumlah tangkapan belum memenuhi target awal saat berangkat.

"Ini saja belum waktunya pulang tapi sudah pada pulang karena cuaca buruk. Gelombangnya ya tinggi, sampai 3 meter. Hasil tangkapannya mepet, gak bisa dapat banyak," ujarnya saat ditemui detikcom di PPP Tasikagung Rembang, Selasa (19/12/17).

Putra menjelaskan, normalnya lama waktu nelayan saat melaut selama 25 hari bahkan sampai 40 hari. Kali ini dirinya baru 15 hari di laut namun sudah terpaksa pulang karena ombak yang tinggi.

"Intinya mepet hasil tangkapannya. Malah ada yang baru berangkat beberapa hari saja sudah pulang kemarin. Mereka lebih milih merugi, karena di tengah laut sana sangat bahaya itu," imbuhnya.

Nelayan lainnya, Is Valen warga Desa Tasikagung Kecamatan Kota Rembang mengaku imbas dari cuaca buruk tersebut, para nelayan memilih tidak jadi melaut. Yang dikhawatirkan stok ikan kian menipis di pasaran dan berpotensi terjadi kelangkaan.

"Kalau sudah gini memang musimnya sulit. Stok jadi langka pasti harganya makin naik. Apalagi ini cantrang juga sudah mulai tidak boleh," pungkasnya. (bgs/bgs)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads