DetikNews
Minggu 22 Oktober 2017, 15:31 WIB

Hari Santri Nasional

Cara Mbah Umar Memberi 'Sanksi' untuk Para Santrinya yang Nakal

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Cara Mbah Umar Memberi Sanksi untuk Para Santrinya yang Nakal Profil KH Umar Abdul Mannan di kaos seorang santri (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo - Layaknya anak-anak pada umumnya, santri di pondok pesantren (ponpes) tentu ada juga yang nakal. Namun setiap ponpes pasti memiliki kisah tersendiri. Simak, kiat Mbah Umar dari Solo, yang sangat terkenal di kalangan pesantren.

Di Ponpes Al-Muayyad Mangkuyudan Solo, cerita menarik muncul dari sang pendiri, KH Ahmad Umar bin Abdul Mannan. Mbah Umar, begitu ia disapa, memiliki cara berbeda menangani para santrinya yang nakal.

Anak Mbah Umar, Abdul Mu'id Ahmad (66), menceritakan bahwa ayahnya memiliki tingkat kesabaran yang tinggi. Mbah Umar tak pernah memarahi para santrinya.

"Santri-santri yang nakal dicatat semua. Lurah pondok diminta membuat ranking anak-anak dari yang paling nakal siapa. Lurah pondok saat itu mengira bahwa Mbah Umar akan menghukum nama-nama yang dicatat," kata Mu'id saat ditemui di kediamannya di kompleks Ponpes Al-Muayyad, Mangkuyudan, Solo, Minggu (22/10/2017).

Namun ternyata tidak. Mbah Umar justru mendoakan santri-santri itu secara khusus seusai salat tahajud.

"Secara khusus, mereka yang dicatat itu didoakan setiap tahajud, dimintakan kepada Allah agar jadi orang saleh. Alhamdulillah yang masuk daftar nakal itu ada yang jadi kiai. Misalnya Kiai Maksum di Tanggulangin, ada Lukman Nur Hakim dari Banyuwangi," lanjutnya.

Cara Mbah Umar Memberi 'Sanksi' untuk untuk Para Santri yang NakalPonpes Al-Muayyad di Mangkuyudan, Solo. (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Mu'id juga menceritakan kisah Mbah Umar dengan tukang listrik keturunan Cina bernama Mugisi. Setiap bertugas mengecek listrik di pondok, Mugisi selalu dijamu oleh Mbah Umar.

"Dikasih minuman, disuguh makanan, ngobrol-ngobrol, lalu pamit. Lama-lama dia tertarik dengan akhlaknya Mbah Umar ini. Akhirnya kepengin masuk Islam, minta disyahadatkan," tuturnya.

Tak hanya masuk Islam, Mugisi juga melaksanakan ibadah haji. Merasa berhutang budi, Mugisi mengajukan diri bertanggung jawab mengurus lampu-lampu rusak di pondok.

Sebagai putranya, Mu'id pun memiliki pengalaman tersendiri dengan Mbah Umar. Menurutnya, Mbah Umar punya cara berbeda mengingatkan kesalahan yang ia lakukan.

"Saya waktu muda rambutnya agak panjang. Di depan saya, Bapak memanggil santri lain karena rambutnya panjang, dikasih uang untuk potong rambut. Itu kan sebenarnya nembak saya. Saya jalan lewat belakang langsung potong rambut," ujarnya.

Sebelum mendirikan ponpes, Mbah Umar awalnya hanya mengajar adik-adiknya. Semakin lama banyak orang yang ikut pengajian, bahkan hingga tidur di tempat Mbah Umar.

Kemudian didirikanlah langgar, lantai atas untuk pengajian, lantai bawah untuk istirahat. Semakin penuh, Mbah Umar lalu mendirikan pondok khusus membaca Alquran untuk masyarakat umum.

"Sampai tahun 1972, saya ikut mengusulkan agar pondok ini ditambah sekolah formal. Mbah Umar pun merestui. Sampai sekarang sudah ada Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah," ungkap dia.

Mbah Umar meninggal pada tahun 1980. Usianya saat itu 63 tahun. Ponpes Al-Muayyad kini diasuh oleh penerusnya, KH Abdul Rozaq Shofawi.
(mbr/mbr)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed