Ia menjual beraneka ragam jenis gorengan, mulai dari mendoan, bakwan tepung, bakwan jagung, kentang goreng dan bubur.
Ia mengaku menjual gorengan tersebut sudah dilakoninya selama hampir 4 tahun. Pertama kali ia mengayuh sepedanya untuk berjualan gorengan saat masih duduk di kelas 2 SD.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia sejak kecil tinggal dengan ibunya yang sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci. Bersama ibunya dia menumpang tinggal di rumah budhenya. Dia juga tidak tahu kemana ayahnya karena telah pergi meninggalkan keluarga sejak kecil.
Jualan goreng dilakukan April sepulang sekolah. Dari rumah dia membawa satu keranjang yang berisikan penuh makanan gorengan dan bubur. Dia baru kembali pulang ke rumah sekitar pukul 18.00 WIB. Dia pun menjalaninya dengan suka cita tanpa ada paksaan.
Dia mengaku gorengan tersebut hasil masakan budhenya. Semua uang hasil jualan tersebut akan diberikan kepada budhenya. Dia mendapatkan upah sendiri. Satu buah gorengan dijual Rp 1.000. Sedangkan bubur dijual dengan harga Rp 3 ribu.
"Kalau habis bisa dapat uang Rp 250 ribu. Nanti dapat uang saku Rp 15 ribu dari bude," tuturnya.
Ia pun bermimpi, dari uang upah jualan gorengan tersebut bisa untuk membeli sebuah sepeda motor jenis trail. Setiap hari uang upah tersebut ditabung di koperasi sekolah. Namun dia mengaku masih belum bisa konsisten menabung setiap hari.
"Upahe buat jajan, terus ada yang ditabung di sekolah, sekarang sudah dapat Rp 220 ribu. Nanti buat beli sepeda motor," katanya.
Karena asyik berjualan itu, ia juga pernah mendapatkan teguran dari guru di sekolah. Sebab rata-rata nilai mata pelajarannya jelek. Atas dasar itu dia kini mulai membagi waktu antara jualan dengan belajar.
"Dulu jualan sampai malam, karena sambil main-main. Tapi terus pernah dimarahi sama bu guru soalnya nilai jelek dan gak pernah belajar. Sekarang kalau sudah maghrib pulang, langsung belajar biar nilainya juga bagus, kan sudah kelas 6 juga," kata April yang sekolah di SDN 1 Leteh Rembang. (bgs/bgs)











































