detikNews
Kamis 03 Agustus 2017, 13:36 WIB

Sultan Ingin Hidupkan Tambak Garam di Pantai Samas

Usman Hadi - detikNews
Sultan Ingin Hidupkan Tambak Garam di Pantai Samas Foto: Usman Hadi/detikcom
Yogyakarta - Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X ingin menghidupkan kembali tambak garam di wilayah Pantai Samas, Bantul. Dulu kawasan tersebut pernah menjadi sentra produksi garam rakyat.

"Kami ingin menghidupkan kembali tambak garam di Pantai Samas," kata Sultan dalam Rakorda Tim PengendalianInflasi Daerah (TPID) DIY, Hotel Royal Ambarrukmo di Jalan Laksda Adisutjipto No. 8 DIY, Kamis (3/8/2017).

Dulunya sekitar tahun 1950-1980an kawasan Pantai Samas dikenal sebagai sentra produksi garam. Tapi seiring berjalannya waktu, petani garam berangsur-angsur tak lagi memproduksi garam. Mereka banyak beralih menjadi nelayan.

Pemda DIY sempat berupaya menggeliatkan kembali produksi garam di Pantai Samas. Pada tahun 2013 lalu, Pemda DIY memberikan bantuan berupa bak penampungan air laut, sebagai wadah untuk memproduksi garam. Namun sekarang bak tersebut mangkrak tak terawat.

Menanggapi wacana yang diutarakan Sultan HB X, Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (Diperpautkan) Kabupaten Bantul Pulung Haryadi, mengaku sudah berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan DIY. Hasilnya produksi garam di Pantai Samas bakal diupayakan kembali beroperasi.

"Pada hari Kamis kemarin sudah kami koordinasikan dengan Dinas Kelautan dan Perikanan DIY. Kami akan bareng-bareng menangani," papar Pulung.

Nantinya produksi garam di Pantai Samas disebut Pulung tidak akan menggunakan media bak penampungan air laut, melainkan pakai terpal. Alasannya karena media terpal dinilai lebih efektif menghalau pasir dari Pantai Selatan.

"Tapi sistemnya bukan pakai bak, tapi pakai terpal, kami usahakan pakai terpal. Nanti kami bahas, provinsi mau (menyediakan) berapa kemudian (Pemda) Bantul berapa. Karena kalau (bak) permanen, itu (garam) gampang kena pasir karena di pinggir pantai," imbuhnya.

Dia menambahkan karakteristik pasir di Pantai Samas mudah terbawa angin sehingga bisa merusak kualitas produksi garam. "Tapi kalau dengan terpal kan (produksinya) bisa lebih ke tengah, dan biayanya juga murah. Intinya lebih murah dan lebih efektif," tegasnya.

Pulung yakin usaha pemerintah menghidupkan kembali aktivitas produksi garam di Pantai Samas berhasil. Sebab sekarang ini harga garam lebih stabil ketimbang dulu.

"Dulu kan (produksi) garam di Pantai Samas masih usaha sampingan. Sekarang harga garam sudah kita ketahui, lebih tinggi. Jadi bisa menjadi usaha pokok warga," katanya.

Untuk saat ini kata dia, dinas masih melakukan kajian seperti menentukan model, teknik, dan teknologi yang mau diterapkan. Rencananya setelah selesai dikaji, di tahun 2018 produksi garam di Pantai Samas bakal dihidupkan kembali.

"Nanti kami tentukan dulu model dan teknik atau teknologi proses (produksi) garamnya. Ini masih kajian, tahun 2018 akan kami laksanakan," pungkas Pulung.
(bgs/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com