DetikNews
Senin 24 Juli 2017, 14:37 WIB

Kemarau Basah, Petani Garam di Rembang Resah

Arif Syaefudin - detikNews
Kemarau Basah, Petani Garam di Rembang Resah Foto: Arif Syaefudin/detikcom
Rembang - Meski telah memasuki musim kemarau sejak awal bulan Juni lalu, para petani garam di Rembang resah. Proses produksi garam hingga pertengahan Juli ini belum membuahkan hasil. Hanya ada beberapa petani yang berhasil panen garam, itupun dengan kuantitas dan kualitas yang jauh di bawah standar.

Padahal, jika cuaca dalam kondisi normal, petani garam sudah bisa panen sebanyak tiga kali. Namun, akibat anomali cuaca yang masih belum menentu, sebagian besar petani belum bisa memproduksi garam.

Salah satu petani garam, Jasman warga Desa Waru Kecamatan Kota Rembang mengaku sejak awal proses penggarapan tambak garam pada awal bulan Juni lalu, dirinya baru berhasil memanen garam satu kali. Itupun hanya mampu menghasilkan 20 karung garam atau sekitar 1 ton garam dari tiga petak tambak miliknya.

Dia mengatakan sejak penggarapan tambak pada bulan Juni lalu, seharusnya sudah tiga kali panen. Namun ternyata masih saja terjadi hujan, sehingga harus mengulang lagi dari awal proses penggarapan tambak.

"Selama 1,5 bulan, baru sekali panen, itupun jumlahnya jauh dari harapan. Selain itu kualitasnya juga tidak sebaik jika kondisi cuaca normal," ungkap Jasman di tambak Desa Waru, Rembang, Senin (24/7/2017).

Hal serupa juga diungkapkan Wakijan, warga Desa Banggi, Kecamatan Kaliori. Ia mengeluhkan, meskipun pihaknya telah menggunakan metode plastik dalam produksi garam, namun selama masuk musim kemarau ini selalu gagal dalam produksi.

"Harusnya sudah empat kali panen, tapi selama ini saya selalu gagal karena hujan. Tiap turun hujan, proses penambakan harus mulai kembali dari awal, mulai nylender untuk meratakan tanah sampai tuang air lagi," ujarnya.

Ia mengaku hampir putus asa terkait kondisi cuaca yang tidak menentu. Kini pihaknya memaksakan untuk menggarap satu petak tambak garam, meskipun airnya masih tercampur dengan air hujan.

Adapun dari fenomena gagal panen dari petani garam tersebut, berimbas pada kenaikan harga yang cukup signifikan. Dari harga normal rata-rata petani hanya berkisar Rp 1.000 per kilo, kini melonjak empat kali lipat. Harga berkisar Rp 3.500 sampai Rp 4.500 per kilogram.
(bgs/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed