Ada Mantra Pemikat Wanita di Primbon Mangkuprajan, Begini Bunyinya

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Minggu, 16 Jul 2017 09:03 WIB
Penerjemah di Museum Radya Pustaka, Totok Yasmiran. Foto: Bayu Ardi Isnanto
Penerjemah di Museum Radya Pustaka, Totok Yasmiran. Foto: Bayu Ardi Isnanto
Solo - Serat Primbon Mangkuprajan berisi tulisan soal ketauhidan Islam, tasawuf Islam Jawa hingga doa dan mantra. Salah satunya mantra pengasih atau pemikat wanita.

"Kebanyakan tentang pengasihan. Misalnya ketika mengejar wanita, harus puasa pati geni, tidak melihat cahaya selama tiga hari. Lalu membaca doa yang tertulis di sini," kata penerjemah di Museum Radya Pustaka, Totok Yasmiran saat ditemui detikcom di kantornya, Sabtu (15/7/2017).

Kitab karya K.R.A. Mangkupraja itu ditulis pada sekitar tahun 1785-1815. Mangkuprajan menulisnya ke dalam dua tulisan, yakni huruf Jawa kuno dan pegon. Pegon merupakan bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab. Pada bagian yang ditulis dengan pegon, cetakan halaman dibuat terbalik.


Baca Juga: Membaca Kembali Serat Primbon Mangkuprajan yang Berumur 2 Abad

Dalam transliterasi kitab itu dalam tulisan latin, mantra itu berbunyi, "Punika sijanah lamun arep ing wong wadon apuwasaha telung dina pati geni insya allah asih ikulah dongane."

"Allahumma sih sijabah ketit sukemen cahyaku tawaabu 'ghofiru khasiibu wakiilu kaafiyun roziqu salamu mu'minu sarii'u badii'u baathinu khafiilu kaamilu mubtadii'u mu'iidu mu'iitsu muujidushoodiqu sarii'u."


Museum Radya Pustaka SurakartaMuseum Radya Pustaka Surakarta Foto: Bayu Ardi Isnanto
Menurut Totok, doa, mantra maupun jimat itu terpengaruh Kitab Mujarobat. Kitab itu berisi tentang pengobatan spiritual dari Timur Tengah.

Totok menekankan hal ini adalah khasanah budaya Jawa. Bukan menjadi tuntunan Nabi Muhammad SAW.

"Saya tekankan, ini kalau ditelusuri memang tidak ada tuntunannya dari Nabi (Muhammad). Tidak bisa diilmiahkan juga. Mungkin orang dulu pernah mencoba dan berkhasiat, lalu dicatat," ungkapnya.

Naskah kuno itu telah melalui tahap digitalisasi untuk 'mengawetkan' ilmu di dalamnya. Tulisan-tulisan Jawa dan pegon dalam manuskrip itu juga telah ditransliterasi ke dalam tulisan latin agar lebih mudah dipahami. (sip/sip)