DetikNews
Rabu 12 Juli 2017, 14:26 WIB

Frendi, Kuli Panggul Jadi Mahasiswa dari Kampung Sidat Banyumas

Arbi Anugrah - detikNews
Frendi, Kuli Panggul Jadi Mahasiswa dari Kampung Sidat Banyumas Frendi, mahasiswa didikan Kampung Sidat, Banyumas. (Foto: Arbi Anugrah/detikcom)
Banyumas - 'Sekolah rakyat' mandiri Di Desa Singasari, Karangwelas, Banyumas, menjadi pilihan bagi Frendi untuk menimba ilmu. Dia datang dari keluarga miskin di Kebumen. Sempat menjadi kuli panggul kayu selepas sekolah MTs. Kini dia sudah kuliah.

Frendi berasal dari Desa Argopeni, Kecamatan Ayah, Kebumen. Setelah lulus Madrasah Tsanawiyah (MTs) di daerahnya pada tahun 2009 lalu, dia nyaris tak punya harapan untuk kembali meneruskan sekolah ke jenjang lebih tingi.

Orang tuanya hanya bekerja sebagai buruh pengepak ikan di tempat pelelangan ikan. Ayahnya juga mengatakan tidak ada biaya lagi untuk menyekolahkan anak-anaknya lebih tinggi dari tingkat sekolah menengah pertama. Frendi bisa memaklumi keadaan itu.

"Kakak juga tidak sekolah. Bapak mengatakan tidak ada dana. Saya memahami. Setelah lulus MTs, saya ikut kakak jadi kuli panggul kayu, untuk cari uang agar tidak merepotkan keluarga. Dibayar Rp 20 ribu/hari, selama 3 tahun," papar Frendi kepada detikcom, Rabu(12/7/2017).

Keinginan kuat untuk tetap belajar akhirnya membawa dirinya ke Sekolah Kader Desa Brilian di Kampung Sidat yang berbasis pendidikan anak-anak miskin pinggir hutan dengan sistem pendidikan Kejar Paket C.

Frendi, Kuli Panggul Jadi Mahasiswa dari Kampung Sidat BanyumasModel belajar di Kampung Sidat. (Foto: Arbi Anugrah/detikcom)

Pendidikan di sekolah tersebut gratis dan lebih mengajarkan anak didiknya agar dapat bertani, beternak, berwirausaha, meskipun tidak meninggalkan kewajiban mempelajari pelajaran umum.

"Selama 2 tahun belajar bebas mau belajar apa saja difasilitasi, baik itu pertanian, kehutanan, intinya belajar sendirilah. Pelajaran umum, lebih ditekankan ke IPS. SPP gratis, masuk ke sana tidak ada biaya," ujarnya.

Setelah lulus kejar paket C, pemuda 24 tahun itu melanjutkan kuliah di IAIN Purwokerto, kini sudah semester 5. Dia mendapat beasiswa yang diusahakan oleh Sekolah Kader Desa Brilian bekerjasama dengan pihak kampus memang membuka beasiswa bagi kalangan tidak mampu.

"Lulusan sekolah ini diwajibkan membimbing adik-adik baru yang bersekolah di sini," ujar Frendi.

Untuk kebutuhan sehari-hari, Frendi dan kawan-kawannya membuat kegiatan agar dapat mendapatkan penghasilan. Ada yang usaha berjualan sandal, beternak, budidaya ikan sidat hingga membuat aneka makanan dari ikan sidat.
(mbr/mbr)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed