DetikNews
Rabu 12 Juli 2017, 14:10 WIB

Inspirasi dari Kampung Sidat di Banyumas

Arbi Anugrah - detikNews
Inspirasi dari Kampung Sidat di Banyumas Sekolah Kampung Sidat. (Foto: Arbi Anugrah/detikcom)
Banyumas - Di Desa Singasari, Karangwelas, Banyumas, terdapat sebuah 'sekolah rakyat' yang dikelola warga secara mandiri. Namanya Sekolah Kader Desa Brilian atau Kampung Sidat. Anak-anak diajari bekerja mandiri sembari menempuh pendidikan kesetaraan. Inilah, jawaban atas seribu slogan tentang pembangunan.

Terkadang permasalahan kemiskinan menjadi alasan bagi sebagian orang tua untuk tidak menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Padahal sebenarnya semua itu bukan halangan selama ada kemauan yang tinggi untuk dapat terus belajar.

Seperti anak-anak yang belajar di 'Kampung Sidat' di Desa Singasari, Kecamatan Karanglewas, Banyumas, Jawa Tengah. Di desa itu dibangun Brilian Institut atau Sekolah Kader Desa Brilian. Anak- anak yang ikut belajar adalah anak-anak kelompok belajar (Kejar) Paket C atau setara SMA.

Meskipun mereka datang dari latar belakang keluarga tidak mampu, namun semangat serta keinginan yang kuat untuk dapat terus belajar mengalahkan semua rintangan dan permasalahan yang menghadang.

Bahkan, meskipun hanya siswa yang belajar dari Kejar Paket C, sekarang sebagian mereka sudah melanjutkan pendidikan hingga ke tingkat perguruan tinggi.

Inspirasi dari Kampung Sidat di BanyumasAnak-anak belajar bersama secara santai. (Foto: Arbi Anugrah/detikcom)

Muhammad Adib, pengelola Sekolah Kader Desa Brilian, mengatakan sekolah yang dikelolanya itu melayani anak-anak yatim dan anak-anak miskin dari sekitar pinggiran hutan di Jawa Tengah. Mereka yang belajar di tempat itu, mulai dari yang mengikuti Kejar Paket C hingga menjadi sarjana.

"Sekolah ini tidak memungut biaya apapun, gratis termasuk untuk biaya sehari-hari. Alhamdulilah, ini sudah memasuki tahun ketujuh. Alumni dari Kejar Paket C sudah banyak yang kuliah. Sudah ada 10 anak. Ada yang di Unsoed Purwokerto, di IAIN, ada di Unwiku, Khasanah Institut maupun di Universitas NU," jelasnya, kepada detikcom, Rabu (12/7/2017.

Dia berharap dari sekolah kader brilian itu akan lahir sarjana-sarjana yang mau kembali ke desanya untuk dapat mengelola kelompok tani dan mengelola lembaga masyarakat desa hutan (LMDH). Para kader muda diharapkan mampu mengelola sumber daya hutan agar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

"Biaya hidup sehari-hari ditopang dari hasil usaha yang dikelola secara bersama-sama. Kami bertani, memelihara ikan sidat dan usaha kuliner sidat. Jadi semua hasil itu untuk biaya hidup mereka sehari-hari dan biaya saat mereka belajar atau kuliah," tuturnya.
(mbr/mbr)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed