Prosesi doa sudah dilakukan sejak pukul 04.00 WIB. Kemudian Pindapata dimulai tepat pukul 08.00 WIB. Belasan biksu menuju Vihara menaiki tangga dan disambut umat Buddha yang berjajar dari tangga hingga Vihara. Biksu mendapatkan derma berupa makanan dan minuman dari umat Buddha di sana.
Biksu yang berjalan perlahan membawa periuk logam diisi oleh umat satu per satu hingga penuh. Mulai dari anak kecil hingga orang tua menyerahkan makanan dan minuman sambil tersenyum dan disambut senyum pula oleh para biksu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nanti kita salurkan ke tempat-tempat yang lebih membutuhkan," kata Biksu Cattamano, Kamis (11/5/2017).
Ia menjelaskan, Pindapata memiliki makna dalam sekaligus mengedukasi anak-anak tentang agama Buddha dan arti penting saling berbagi kepada yang lebih membutuhkan.
"Memberi kesempatan umat Buddha melakukan kebajikan. Ternyata di bawah kita masih ada yang memerlukan, masih kekurangan. Kita bersyukur, dengan kebajikan itu salah satu cara menjauhkan diri dari kebencian dan keserakahan dan kegelapan hati," pungkasnya.
Foto: Angling Adhitya Purbaya |
Prosesi Waisak di Vihara Tanah Putih diikuti sekitar 600 orang dan dihadiri 13 biksu dari beberapa daerah termasuk Samanera. Usai pindapata, prosesi berikutnya yaitu pelepasan mahluk yang kali ini dilakukan dengan pelepasan burung pipit.
"Setelah ini kita doa bersama, ada penyampaian pesan Waisak," jelasnya. (sip/sip)












































Foto: Angling Adhitya Purbaya