Menurut istri Abay, Oom Nurhasanah (25), pada Selasa malam pukul 20.00 (4/3/2008), suaminya mengalami sesak napas disertai demam tinggi. "Suami saya juga batuk-batuk dan mengeluh kalau tulang-tulangnya sakit dan lemas. Tenggorokannya juga sakit," tuturnya di RSHS, Jl Pasteur, Kamis (6/3/2008).
Pukul 23.00 WIB, demamnya makin tinggi. Kemudian Rabu pagi, pukul 8.00 WIB, dibawa ke puskesmas Ciwaruga. "Dari puskesmas dirujuk ke RSHS dan langsung dibawa ke UGD," ujar Oom.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sepengetahuan saya, suami saya tidak pernah kontak dengan ayam. Memang mertua mengurus unggas, tapi cuma di halaman," ujarnya.
Meski begitu, Oom mengaku, lima hari sebelum suaminya mengalami demam tinggi tersebut, ada sekitar 11 ayam di kampungnya yang mati mendadak. Kasus terakhir pada Jumat, 29 Februari lalu, ada ayam yang mati. Kemudian langsung dilaporkan ke RW dan esoknya ada penyemprotan dan vaksinasi unggas.
Sementara itu Anggota tim dokter flu burung, Primal Sudjana, mengatakan kondisi terakhir pasien membaik. Kini pasien tdiak panas maupun sesak lagi. "Pasien sudah tidak mengeluh, tekanan stabil, suhunya pun menurun. Sekarang sudah 37 derajat celcius," ujarnya.
Bahkan, kata dia, tim dokter tidak menemukan infeksi saluran pernapasan. Untuk saat ini, pasien diberikan tamiflu selama 7 hari ke depan sampai selesai pemeriksaan.
(ern/ern)










































