"Saya bukan seorang feminis. Pengertian feminis sendiri tergantung bagaimana interpretasi setiap orang, tergantung pula pada konteksnya. Tergantung pula dari apa yang diperjuangkan. setiap negara memiliki pandangan berbeda tentang feminisme, baik itu di negara-negara Barat, di Timur maupun negara-negara muslim," tutur Qaisra di Toko You, Jalan Hasanudin Bandung, Rabu (6/2/2008).
Ibu tiga anak ini mengaku, ketertarikannya terhadap cerita-cerita seputar dunia perempuan karena dirinya adalah perempuan. Dirinya senantiasa membandingkan antara kehidupan perempuan di Inggris, tempat dia dibesarkan dan di Pakistan, tempat kelahirannya. Eksplorasi dari perbandingan itulah yang melahirkan cerita-cerita tentang perempuan di Pakistan dan polemiknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misalnya dalam novel pertamanya 'Perempuan Suci' yang meraih Best Book of the Month di Bradford, dan Jubilee Award di Manchester. Di mana ide ceritanya terinspirasi oleh tradisi kuno Pakistan yang mengekang hak asasi perempuan walaupun tradisi ini di tahun 2005 sudah dihapuskan. 'Perempuan Suci' menceritakan tentang seorang perempuan bernama Zarri Bano, yang dipaksa untuk menjadi seorang perempuan suci. Zarri Bano tidak diperbolehkan menikah dan hanya mengabdikan hidupnya untuk agama. Tubuhnya tertutupi burqa hitam, sejenis pakaian yang menutupi hampir seluruh tubuhnya dan hanya menyisakan celah di bagian mata. Burqa telah membatasi dirinya dengan dunia luar.
Sekuel novel 'Perempuan Suci', 'Perempuan Terluka' juga masih berbicara tentang pergulatan perempuan. Diceritakan seorang perempuan bernama Naghmana yang melakukan pernikahan siri dengan seorang laki-laki. Di mana satu ketika Naghmana harus menerima talak tiga dari suaminya di depan pengadilan adat, yang dihadiri seluruh penduduk desa.
Kedua kisah yang mengambil latar belakang eksotisme budaya Pakistan ini mendapat begitu banyak pujian sebagai novel yang memikat. Alurnya yang melodramatis memiliki magnet tersendiri bagi para pembacanya. (ema/ern)










































