Pendengkur Beresiko Hipertensi & Impotensi

Pendengkur Beresiko Hipertensi & Impotensi

- detikNews
Jumat, 18 Jan 2008 13:24 WIB
Bandung -
Masalah mendengkur mungkin sering kita anggap sebagai hal yang sepele.
Ibarat gunung es, dibalik masalah kecil ini tersimpan masalah yang lebih
besar lagi. Siapa sangka masalah gangguan tidur, termasuk mendengkur,
membuat rentan pada penyakit jantung, tekanan darah bahkan impotensi.

Selain OSAS (Obstructive Sleep Apnea Syndrome), nama lain untuk
mendengkur, masih banyak masalah gangguan tidur lainnya. Misalnya tidur
berjalan, bicara sambil tidur, kram kaki waktu tidur bahkan ada juga
kejang-kejang sewaktu tidur. Masalah ini dapat diwaspadai dengan mengenali
gejala-gejalanya. Beberapa gejalanya khas yakni, sulit memulai tidur,
sering terbangun tengah malam atau sakit kepala di pagi hari.

Di Indonesia kasus-kasus seperti ini memang belum signifikan. "Penelitian
khusus di Indonesia belum dilakukan. Tapi secara global, kasus ini terjadi
pada 4% pria dan 2% wanita di dunia. Kawasan yang rentan adalah kawasan
pasifik, termasuk Indonesia." ujar dr Teguh Widjaja SpP., FCCP,
koordinator Sleep Lab Rumah Sakit Immanuel Bandung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akibat dari gangguan tidur ini tidak bisa dianggap sepele. Mulai dari hal
sederhana seperti turunnya produktivitas kerja, penderita gangguan tidur
rentan dengan tekanan darah tinggi, stroke, penyakit jantung sampai
impotensi.

"Gangguan ini baiknya segera diobati. Selain dari munculnya gejala-gejala
gangguan tidur, kalau si pasien dan pasangannya merasa terganggu, baiknya
segera diperiksakan." ujar Teguh di sela-sela soft launching Immanuel
Sleep Laboratory, RS Immanuel Jalan Kopo Bandung.

Pengobatan yang ditawarkan untuk gangguan tidur ini makin berkembang.
Diakui dr Teguh bahwa sudah sejak tiga tahun lalu dilakukan pengembangan
Sleep Laboratory di Indonesia. Sekarang sudah ada tiga Sleep Laboratory di
Indonesia, dua di Jakarta dan satu di Bandung. Konsep dari Sleep
Laboratory ini sendiri untuk menganalisa stadium-stadium tidur dan kondisi
fisik selama pasien tidur, menggunakan polisomnografi. Dari hasil
pemeriksaan dapat dilakukan tindak pengobatan lebih lanjut.

"Pengobatan ini kami coba tawarkan dengan harga yang sebisa mungkin
diterima masyarakat. Tapi layanan ini memang berkualitas dan efektif."
ujar Teguh.

(twi/ern)


Berita Terkait