Kota bandung

Ratusan Rumah-Kios akan Digusur Imbas Pembangunan Flyover Ciroyom

Rifat Alhamidi - detikNews
Rabu, 16 Feb 2022 08:36 WIB
Sekda Kota Bandung Ema Sumarna saat meninjau rencana pembangunan flyover Ciroyom. (Foto: Rifat Alhamidi/detikcom)
Sekda Kota Bandung Ema Sumarna saat meninjau rencana pembangunan flyover Ciroyom. (Foto: Rifat Alhamidi/detikcom)
Bandung -

Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) akan mempengaruhi tata ruang di kawasan Ciroyom, Kota Bandung. Pasalnya, di lokasi ini rencananya akan dibangun jembatan layang atau flyover untuk mendukung proyek yang akan diuji coba pada November 2022 ini.

Sekda Kota Bandung Ema Sumarna beserta sejumlah pejabat dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) telah meninjau rencana pembangunan flyover Ciroyom, Selasa (15/2). Imbasnya, ratusan kios hingga pemukiman penduduk yang berdiri di pinggiran bantaran rel kereta api dipastikan akan digusur oleh proyek tersebut.

"Melihat dari targetnya, ini (flyover) harus berjalan tahun ini. Makanya sekarang kita harus optimal sosialisasi dan komunikasi dengan masyarakat, untuk masyarakat yang tinggal di sana akan didata terlebih dulu," kata Ema.

Rencananya, Flyover Ciroyom akan memakan lahan sekitar 10 ribu meter persegi. Flyover ini akan membentang sepanjang 700 meter di atas Jalan Arjuna mulai dari Jalan Subadyo, kemudian melingkar ke arah Selatan, tepatnya ke Jalan Ciroyom, Kota Bandung.

"Ada beberapa area yang harus kita bebaskan lahannya. Banyak masyarakat yang melakukan aktivitas usaha, ada juga rumah-rumah warga. Ini harus kita pastikan dulu skema relokasinya seperti apa. Jangan sampai masyarakat itu dirugikan," ucap Ema.

Flyover di kawasan Ciroyom dipilih, kata Ema, lantaran proyek KCJB saat ini ternyata belum mencapai hingga wilayah Tegalluar, Bandung. Menurut informasi yang ia terima, titik pemberhentian terakhir kereta cepat itu baru sampai wilayah Padalarang, Bandung Barat.

"Karena menurut informasi yang kami terima, untuk saat saat ini ternyata ada titik pemberhentian di Padalarang. Jadi belum ke Tegalluar. Nah untuk mengantisipasi hal tersebut, perlu ada jalur konektivitas menuju ke Kota Bandung di antaranya perlu adanya flyover yang melintasi di jalan Arjuna ini," katanya.

Untuk persoalan pembebasan lahan, Ema menyebut warga yang menghuni di kawasan tersebut ternyata seluruhnya menumpang di atas lahan milik PT KAI. Namun begitu, ia meminta harus ada santunan pengganti bagi warga yang tergusur imbas pembangunan flyover.

"Jadi masyarakat yang huni di sana dan berjualan adalah sebagai pengguna saja bukan pemilik. Kalau lahannya bukan lahan pribadi, tentu uang yang diberikan istilahnya adalah santunan atau kerohiman. Tapi kalau ini aset pribadi, pasti akan ada dana penggantian," ujar Ema.

"Nanti secara intensif lurah dan camat akan melakukan sosialisasi seiring dengan tim lapangan. Akan ada pendataan mengenai pekerjaan warga, lama tinggal dan lainnya," pungkasnya.



(ral/yum)