Kisah Pilu Bayu, Bocah Yatim Piatu Jualan Buah Demi Sepatu Baru

ADVERTISEMENT

Kabupaten Cianjur

Kisah Pilu Bayu, Bocah Yatim Piatu Jualan Buah Demi Sepatu Baru

Ismet Selamet - detikNews
Jumat, 11 Feb 2022 15:17 WIB
Cianjur -

Perjuangan Bayu (11), bocah asal Kampung Cimalang, Desa Cipeuyeum, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur memang tidak mudah. Dia sampai harus berjualan buah potong dan bumbu dapur demi bisa memberi sepatu hingga perlengkapan sekolah lainnya.

Anak bungsu dari lima bersaudara ini terpaksa berjuang sendiri memenuhi kebutuhannya usai kedua orang tuanya meninggal.

Ibunda Bayu, Idah (45) meninggal enam tahun lalu akibat sakit. Sedangkan ayahnya, Dani (65) meninggal akibat tenggelam di arus sungai Citarum sembilan bulan lalu.

Bayu kini tinggal bersama kakak tertuanya, Tina (25) di rumah yang sederhana beratapkan asbes dan tembok rumah yang sebatas susunan batu bata.

Kondisi keluarga kakaknya yang serba keterbatasan membuat Bayu harus berjuang demi memenuhi kebutuhannya sendiri dengan berjualan buah.

"Kalau dari teteh hanya untuk makan, itupun seadanya. Kalau buat sekolah, jajan, sama kebutuhan cari sendiri, dagang buah sama bawang," ungkap Bayu, Jumat (11/2/2022).

Baju berbahan sarung bekas selalu menemaninya di kala berdagang. Tak ketinggalan celana merah sekolah SD pun dia kenakan, sebab bocah ini berdagang di kala pulang sekolah.

Sarung itu ia sulap jadi baju lantaran tidak ada uang untuk membeli baju baru. "Baju hanya ada beberapa, seragam sekolah juga cuma punya satu. Makanya ada sarung bekas saya minta ke teteh buat dibikin baju saja," ungkapnya.

Setiap harinya Bayu berjalan kaki berkilo-kilometer, dari satu kampung ke kampung lain untuk menjajakan buah dan bumbu dapur. Tidak hanya jalan perkampungan, terkadang dia juga menyusuri jalan setapak di lahan pesawahan untuk tiba ke perkampungan tujuannya.

Beban berat dipundak lantaran memikul dagangan yang cukup berat tak ia hiraukan. Keinginannya untuk bisa membeli sepatu baru sekolah dan smartphone untuk belajar daring lebih besar ketimbang rasa lelahnya.

"Cape setiap hari dagang, jalan juga jauh. Tapi kalau mengeluh saya tidak bisa beli sepatu. Karena sepatu sudah bolong. Sama mau beli HP buat belajar daring, soalnya selama ini saya pinjam atau sewa HP Rp 4.000 per tiga jam untuk bisa tetap belajar," kata dia.

Dari hasilnya berjualan, Bayu mendapatkan uang sekitar Rp 12 ribu per hari. Namun tak jarang uang yang dia dapat lebih kecil, di kala dagangannya tak laku.

Uang itu, ia gunakan untuk keperluan, mulai dari jajan dan membantu kebutuhan kakaknya. Sebagian penghasilannya juga ditabung untuk membeli sepatu baru impiannya.

"Jualan kan ngambil dari tetangga, saya hanya menjualkan. Sehari dapat Rp 12 ribu. Kadang juga hanya Rp 5 ribu. Sebagian saya tabungan. Tapi kadang juga terpakai, kalau sekolah daring kan harus sewa. Kalaupun HP nya diberi pinjam teman, tetap bayar untuk internetnya Rp 2 ribu untuk dua jam," tuturnya.

Ia mengaku tidak akan menyerah dengan keadaan dan tidak akan mau bergantung pada belas kasihan orang lain. "Selagi masih bisa jual, saya mah jualan aja. Gak malu, yang penting bisa beli sepatu," tuturnya.

Sementara itu, Neng Tina (25), kakak Bayu, mengatakan adiknya mulai berkeliling berjualan buah dan sayuran sejak ayahnya meninggal

"Karena Suami saya bekerja serabutan yang penghasilannya tidak menentu, maka hingga saya belum bisa beli sepatu atau HP untuk Bayu. Tapi sekarang Bayu tiap hari menabung uang hasil upah dagang keliling. Sedih lihat Bayu di usianya yang masih kecil sudah harus kerja keras untuk keinginannya. Tapi dilarang juga Bayu nya ingin cari uang sendiri," pungkasnya.

(mso/bbn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT