Bogor

Peneliti IPB: Sampah Kiriman 'Hantui' Raja Ampat

M. Sholihin - detikNews
Rabu, 09 Feb 2022 15:21 WIB
PKSPL IPB bersama stakholder dan masyarakat Raja Ampat melakukan bersih-bersih sampah di Pantai Waisai Torang Cinta (WTC)
PKSPL IPB bersama stakholder dan masyarakat Raja Ampat melakukan bersih-bersih sampah di Pantai Waisai Torang Cinta (Foto: Istimewa).
Bogor -

Peneliti senior Institut Pertanian Bogor (IPB) University Arsyad Al Amin mengatakan sampah laut kiriman dari berbagai negara menjadi ancaman bagi ekosistem dan biota laut di kawasan wisata Raja Ampat, Papua.

"Kita harus paham bahwa tantangan yang datang dari luar itu semakin dominan jumlah (sampah)-nya. Sekarang itu sampah yang kita temukan itu bukan sampah dari Raja Ampat, tetapi sampah dari luar, sampah kiriman dari daerah lain, dari Laut Pasifik," kata Arsyad kepada detikcom, Rabu (9/2/2022).

Jika tidak diantisipasi sejak dini, kata Arsyad, maka bukan tidak mungkin Raja Ampat akan menjadi 'terminal' sampah dari luar daerahnya sendiri.

"Jadi yang kita dorong itu, bagaimana Raja Ampat bisa mengantisipasi sampah-sampah kiriman itu, seperti dengan metode jaring sampah yang pemerintah punya. Karena Raja Ampat ini kan destinasi wisata utama Indonesia setelah Bali kan," ungkapnya.

Arsyad yang menjabat Deputi Direktur Program Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) ini meyakini bahwa masyarakat di Kabupaten Raja Ampat memiliki kearifan lokal tertentu, sehingga tetap akan menjaga kebersihan lautnya.

"Saya yakin mereka sebenarnya tidak punya tradisi mengotori laut, karena dari dulu mereka kan menjadikan laut sebagai ladang hidup mereka kan," kata Arsyad.

Pekerjaan Rumah (PR) yang harus dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Raja Ampat, lanjut Arsyad, adalah bagaimana pengelolaan sampah rumah tangga rumah tangga agar tidak mengalir ke laut.

Dampak Sampah Terhadap Ekosistem Biota Laut

Sementara itu, Kepala Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Laut (PKSPL) IPB Yonvitner mengatakan sampah laut yang dibiarkan dan tidak dikelola dengan baik akan mengancam keberadaan ekosistem biota laut, khususnya yang berada di Raja Ampat, Papua Barat.

"Kalau secara kumulatif sampah di Raja Ampat hari ini memang belum mengkhawatirkan. Tetapi ketika kita melihat tren sampah laut yang semakin tinggi, kemudian aktivitas wisata yang semakin meningkat di Raja Ampat, maka antisipasi harus dilakukan sejak awal. Pemahaman masyarakat tentang bahaya sampah kepada ekosistem laut harus ditingkatkan," kata Yonvitner usai mengikuti kegiatan pungut sampah di Pantai Waisai Torang Cinta (WTC), Rabu (9/2/2022).

Sampah laut, lanjut Yonvitner, akan memberi resiko kepada proses penutupan biota-biota laut, baik itu sampah plastik maupun sampah organik. Sampah-sampah itu bahkan berdampak pada kematian biota laut.

"Kalau yang organik itu biasanya mencemarkan perairan yang subur, dan gampang menimbulkan kematian ikan. Tetapi yang sampah non organik, sampah plastik itu resikonya adalah dia akan menempel pada habitat seperti karang, mangrove dan menyebabkan penutupan pada tanaman dan ekosistem oleh sampah sehingga nanti menimbulkan kematian," ucapnya.

Yonvitner menegaskan, pengetahuan dan kepedulian lingkungan menjadi hal penting bagi masyarakat Raja Ampat, agar keindahan Raja Ampat tidak dikotori sampah dan biota bawah laut yang jadi andalan Raja Ampat rusak oleh sampah. Ia berharap, semua komponen dan stakeholder di Raja Ampat bersatupadu dalam menjaga lingkungan di Raja Ampat.

"Operator wisata di Raja Ampat juga harus ikut serta dalam menjaga lingkungan dan pengelolaan sampah. Mereka harus diedukasi sehingga bisa mengajak turis untuk tetap ikut serta menjaga lingkungan dan keindahan Raja Ampat," tandasnya.

(mso/bbn)