Pilu Ratusan Eks Pekerja Migran di Kebonpedes Sukabumi Berstatus ODGJ

Syahdan Alamsyah - detikNews
Jumat, 28 Jan 2022 19:06 WIB
Lonely girl sitting on the floor
Ilustrasi alami gangguan kejiwaan (Foto: Getty Images/D-Keine)
Sukabumi -

Informasi mencengangkan soal eks pekerja migran ditetapkan sebagai Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) diungkap Yayasan Unit Informasi Layanan Sosial (UILS) ODGJ Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi.

Data yang dihimpun pihak UILS mengungkap sejak tahun 2012 sampai awal 2022 terdapat ratusan warga Kecamatan Kebonpedes yang dulunya berstatus pekerja migran kini mengidap gangguan kejiwaan.

"Terhitung sejak tahun 2012 sampai awal tahun 2022 ini, terdapat sekitar 150 warga Kecamatan Kebonpedes yang merupakan mantan buruh migran telah mengidap gangguan jiwa atau ODGJ," kata Ketua Yayasan UILS ODGJ Kecamatan Kebonpedes, Ojang Sopandi kepada wartawan, Jumat (28/1/2022).

Dari jumlah tersebut, Ojang mengatakan UILS hanya memberikan pelayanan kepada 70 orang saja karena mempertimbangkan usia produktif.

"Hanya 70 orang saja, alasannya karena usia produktif atau sampai usia 45 tahun. Makanya kita data dari jumlah total 150 itu, kita layani yang 70 saja," ungkapnya.

Terkait penyebab eks pekerja migran itu mengidap gangguan jiwa, Ojang menjelaskan sejumlah faktor. Salah satunya karena mereka kerap mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari majikan saat bekerja di luar negeri.

"Diantaranya, karena mereka sering mendapatkan perlakukan yang tidak menyenangkan dari majikanya saat mereka bekerja sebagai buruh migran di luar negeri. Ada yang upahnya yang tidak dibayar olah majikannya, saat mereka, pulang ke kampung halamannya uangnya sudah habis baik oleh keluarga maupun oleh suaminya," ujar Ojang.

Selain itu, ada juga yang mendapat kekerasan dari majikannya saat mereka bekerja. "Ada juga saat mereka bekerja di luar negeri mendapatkan kekerasan dari majikannya. Sehingga mereka stress hingga mengalami gangguan jiwa. Jadi memang banyak faktor ratusan mantan buruh migran ini menjadi ODGJ," ujarnya.

Soal mayoritas tujuan para pahlawan devisa itu bekerja, Ojang menyebut mayoritas mereka bekerja di negara-negara Timur Tengah.

"Hampir 90 persen mereka bekerja ke Saudi Arabia. Ironisnya lagi, mereka itu kebanyakan bekerja ke sana melalui jalur illegal atau tidak resmi," pungkas dia.

(yum/bbn)