181 Kasus Kekerasan Perempuan-Anak Terjadi di Cirebon Selama 2021

Sudirman Wamad - detikNews
Rabu, 26 Jan 2022 17:23 WIB
Ilustrasi Kekerasan Anak
Ilustrasi kasus kekerasan anak. (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Cirebon -

Forum Pengada Layanan (FPL) Woman Crisis Center (WCC) Mawar Balqis mencatat sebanyak 181 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak terjadi sepanjang 2021. Mayoritas aduan tersebut berasal dari Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Dari data yang diterima detikcom, WCC Mawar Balqis menyebutkan jumlah pengaduan tahun 2021 menurun dibandingkan sebelumnya. Pada tahun 2020, total aduan yang diterima WCC Mawar Balqis sebanyak 240 kasus. Sedangkan, 2019 total aduan sebanyak 144 kasus. WCC Mawar Balqis merupakan FPL yang fokus menangani kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning).

"Jumlah korbannya pada tahun lalu sebanyak 196 orang," kata Manajer Program WCC Mawar Balqis Sa'adah kepada detikcom, Rabu (26/1/2022).

Sa'adah mengatakan total kasus dan korban yang terlaporkan itu merupakan data kompilasi dari Polresta Cirebon dan P2TP2A Kabupaten Cirebon. WCC Mawar Balqis melakukan pendampingan terhadap 82 kasus, dari 181 kasus. Selebihnya ditangani oleh pihak berwajib dan pemerintah Kabupaten Cirebon.

"Dari sebaran wilayahnya, 90 persen itu kasusnya berasal dari pengaduan masyarakat Kabupaten Cirebon," ucap Sa'adah.

Sa'adah tak menampik masih banyak korban kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang enggan melapor. Menurutnya, kondisi tersebut dikarenakan masih sulitnya akses layanan dan pemenuhan hak korban.

Ia menilai menurunnya angka kekerasan perempuan dan anak pada 2021 bukan berarti selaras dengan jumlah kasus yang terjadi. "Akses layanan dan pemenuhan hak korban belum maksimal. Kekerasan terhadap perempuan dan anak menjadi fenomena gunung es," ujar Sa'adah.

Dia menyampaikan dari 181 kasus yang terlaporkan itu, 88 kasus merupakan kekerasan seksual, 58 kasus KDRT, 11 kasus kekerasan pekerja migran, empat kasus perdagangan manusia, tiga kasus berbasis gender online, dan dua kasus kekerasan pacaran. Sa'adah mengatakan dalam kasus KDRT mayoritas korban enggan menyelesaikannya secara hukum.

WCC Mawar Balqis mendorong agar adanya akses keadilan dalam layanan hukum bagi korban kekerasan. Padahal, pemenuhan hak korban sudah tertuang dalam aturan. Namun, Sa'adah menilai, fakta implementasinya tak maksimal.

(bbn/bbn)