Waspada! DBD Renggut Nyawa 2 Anak di Kota Tasikmalaya

Faizal Amiruddin - detikNews
Senin, 24 Jan 2022 20:06 WIB
ilustrasi demam berdarah
Ilustrasi nyamuk penyebab demam beradarh (Foto: iStockphoto)
Tasikmalaya -

Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Tasikmalaya mengalami lonjakan di awal tahun 2022 ini. Belum genap satu bulan, tercatat sudah terdeteksi 159 kasus DBD. Dua kasus diantaranya menyebabkan penderita meninggal dunia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya Asep Hendra Hendriana membenarkan terkait adanya 2 kasus meninggal dunia akibat DBD di Kota Tasikmalaya.

"Ya ada dua orang yang meninggal dunia akibat DBD," kata Asep, Senin (24/1/2022).

Dia menjelaskan korban jiwa akibat DBD merupakan anak usia sekolah. Satu kasus pertama merupakan siswa SD di Kecamatan Purbaratu yang menyita perhatian, akibat beberapa hari sebelum mengalami gejala DBD sempat mendapatkan vaksinasi COVID-19.

Sementara satu kasus meninggal lainnya, terjadi di Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya. Namun anak berusia 12 tahun ini belum mendapatkan vaksinasi, sehingga tak sampai menyita perhatian publik.

"Kasus kematian DBD pertama di Purbaratu 17 Januari, yang kedua di Cibeureum 23 Januari. Yang kedua ini belum sempat mendapatkan vaksinasi," kata Asep.

Dia mengatakan awalnya vaksinasi untuk anak itu akan dilaksanakan pada 18 Januari, tapi karena satu dan lain hal pelaksanaan vaksinasi diundur ke tanggal 24 Januari. "Dari kejadian ini kita bisa belajar bahwa vaksinasi tidak berkaitan dengan DBD," kata Asep.

Lebih lanjut Asep mengatakan dari total 159 kasus DBD di Tasikmalaya, lebih dari 90 persen harus dirujuk ke rumah sakit. Sampai saat ini tinggal 16 pasien DBD yang masih mendapatkan perawatan di rumah sakit, sementara 143 lainnya sudah berhasil sembuh.

Atas kejadian ini Asep mengatakan pihaknya sudah menerjunkan tim epidemiologi untuk menangani merebaknya wabah DBD. "Kasusnya menyebar di banyak wilayah, tapi yang tertinggi terjadi di Kelurahan Kersamenak Kecamatan Kawalu dengan 14 kasus," kata Asep.

Pihak Dinkes sendiri menurut Asep sudah mulai melakukan pencegahan dan meningkatkan kewaspadaan sejak awal tahun lalu seiring datangnya musim penghujan.

"Tanggal 31 Desember terbit surat Wali Kota untuk meningkatkan kewaspadaan terkait penyakit ini. Artinya sejak saat itu kami sudah bergerak, namun penyebaran tak bisa dihindari. Makanya kami berharap masyarakat lebih proaktif dan peduli dengan melakukan pencegahan. Saya kira semua sudah tahu, bagaimana langkah pencegahan yang harus dilakukan," papar Asep.

Asep menjelaskan, untuk mencegah dan mengantisipasi penularan DBD dapat dilakukan dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan gerakan 3M yakni menutup tempat penyimpanan air, mengubur barang-barang bekas dan menguras tempat penyimpanan air.

Kasus DBD di Kota Tasikmalaya sendiri relatif tinggi setiap tahun. Sebagai perbandingan di tahun 2021 kasus DBD mencapai 909 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 21 kasus. *

Lihat juga video 'Wabup Sukabumi Dikabarkan Sempat Kena DBD':

[Gambas:Video 20detik]



(yum/bbn)