Siswa Sukabumi Demam Tinggi Usai Vaksinasi, Jubir Satgas: Bukan KIPI

Siti Fatimah - detikNews
Senin, 24 Jan 2022 15:10 WIB
Sejumlah pedagang di Bandung menjalani vaksinasi COVID-19 hari ini. Vaksinasi COVID-19 dilaksanakan di mal dan toko swalayan di Kota Bandung.
Ilustrasi vaksinasi (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Sukabumi -

V (10), seorang siswa perempuan kelas empat sekolah dasar (SD) asal Kelurahan Citamiang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi, mengalami demam tinggi usai lima hari mendapatkan vaksinasi COVID-19, Kamis (13/1). Siswa tersebut masih mendapatkan perawatan insentif di RS Syamsudin SH Sukabumi.

Juru Bicara Satuan Tugas COVID-19 Kota Sukabumi Handriana menegaskan kondisi tersebut bukan termasuk Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Dia mengatakan kondisi V masuk dalam diagnosis dengue shock syndrome.

"Bukan (KIPI). Kasus itu demam berdarah dengan syok," ujar Wahyu melalui pesan singkatnya, Senin (24/1/2022).

Wahyu menjelaskan dengue shock syndrome merupakan komplikasi demam berdarah di mana menyerang sistem peredaran darah seseorang. Kondisi tersebut disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan lewat vektor nyamuk aedes aegypty dan aedes albopictus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Sukabumi Lulis Delawati menegaskan kondisi siswa SD demam tinggi itu bukan akibat vaksinasi. Menurutnya, saat proses screening yang bersangkutan keadaan sehat.

"Hasil penyelidikan epidemiologi, anak demam lima hari setelah divaksinasi, saat screening sehat. Divaksinnya 13 Januari dan demam 17 Januari malam, sehingga tidak ada kaitan dengan vaksinasi," kata Lulis.

Manager Informasi dan Keluhan RSUD R Syamsudin SH, Muhammad Yusuf Ginanjar mengatakan, dari hasil pemeriksaan laboratorium memang menunjukkan gejala-gejala DBD. Hasil tersebut belum difinalkan mengingat pasien baru tiba di rumah sakit pada Minggu (23/1), pukul 06.26 WIB.

"Ketika diperiksa dengan hasil lab dapatkan dicurigai dengue shock syndrome. Jadi istilahnya ada penurunan tensi disebabkan karena virus dengue," kata Yusuf.

Menurut dia, penanganan yang diberikan kepada pasien tidak berbeda meskipun telah mendapatkan vaksin COVID-19. Pasien mendapatkan penanganan dari dokter spesialis anak.

"Kalau melihat dari hasil pemeriksaan kita melihat lebih mengarah ke dengue tadi ya. Jadi penanganannya ke pasien DBD. Karena memang dengue shock syndrome itu terapi utamanya dengan cairan dan sudah mendapatkan support obat-obatan untuk meningkatkan tensi," tutur Yusuf.

Lihat juga video 'Kasus Siswa SD Medan Disuntik Vaksin Kosong, 5 Saksi Diperiksa Polisi':

[Gambas:Video 20detik]



(bbn/mso)