Demam Tinggi Usai 5 Hari Vaksinasi, Siswa di Sukabumi Dirawat di RS

Siti Fatimah - detikNews
Senin, 24 Jan 2022 12:29 WIB
RSUD R. Syamsudin, SH, Kota Sukabumi.
Foto: RSUD R. Syamsudin, SH, Kota Sukabum (Siti Fatimah/detikcom).
Sukabumi -

V (10), siswa kelas empat sekolah dasar asal Kelurahan Citamiang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi mengalami demam tinggi pasca lima hari mendapatkan vaksinasi COVID-19. Ia pun diduga mengalami Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).

Case Manager informasi dan Keluhan, RSUD R Syamsudin, SH Muhammad Yusuf Ginanjar mengatakan siswa tersebut tengah dalam penanganan medis. Menurutnya siswa tersebut memiliki riwayat mendapatkan vaksin anak dosis pertama pada Kamis (13/1) lalu.

"Memang dari hasil analisis, pemeriksaan dokter di IGD disampaikan bahwa pasien itu telah mendapatkan vaksin tanggal 13 Januari, kemudian pasien mengalami keluhan itu lima hari dari situ," kata Yusuf saat ditemui di RS Syamsudin, Jalan Rumah Sakit, Kota Sukabumi, Senin (24/1/2022).

Dia menjelaskan awalnya kondisi pasien hanya demam ringan dan menunjukkan perbaikan. Namun, kondisinya kembali drop dengan gejala demam, lemas dan diare.

Kemudian, V dilarikan ke IGD RS Syamsudin pada Minggu (23/1) kemarin sekitar pukul 06.26 WIB. "Kondisi saat datang, kondisinya dingin terus tensi tidak teraba, nadi juga tidak teraba dan datang dengan keluhan demam saat itu," ujarnya.

Dari hasil pemeriksaan laboratorium, pasien dicurigai mengalami dengue syok sindrom, atau bentuk klinis paling berat dari DBD. Pasien mengalami penurunan tensi.

"Ketika diperiksa dengan hasil lab dapatkan dicurigai dengue syok sindrom. Jadi istilahnya ada penurunan tensi disebabkan karena virus dengue, kalau bahasa awamnya mungkin demam berdarah," paparnya.

Pihaknya menyebut kondisi pasien masih dalam observasi tim spesialis kesehatan anak. Pasien pun masih belum stabil dan membutuhkan perawatan intensif.

"Saat ini masih di observasi nunggu dimasukkan ke ruangan PICU. Kondisinya masih naik turun jadi masih belum stabil, tensinya masih belum signifikan terus nadinya masih cepet jadi perlu perawatan di ruang intensif," ujarnya.

(sya/mso)