Membaca Makna Relief Raksasa di Taman Sejarah Majalengka

Bima Bagaskara - detikNews
Minggu, 09 Jan 2022 08:05 WIB
Catatan ketika berkuasanya  Kolonial Belanda di Majalengka. Kolonial Belanda membangun pabrik gula di Kadipaten dan Jatiwangi yang terdapat juga pesta panen tebu atau badirian, ada dermaga Sungai Cimanuk sekitar tahun 1860
Relief dan gunungan di Taman Sejarah Majalengka (Foto: Bima Bagaskara/detikcom)
Majalengka -

Kabupaten Majalengka kini memiliki taman sejarah yang baru saja diresmikan pada Kamis 6 Januari kemarin. Taman sejarah ini dilengkapi dengan informasi tentang pemimpin Majalengka dari masa ke masa hingga foto para tokoh.

Di taman ini juga terdapat relief raksasa yang terukir dengan panjang sekitar 30 meter dan tinggi 4 meter. Relief tersebut menceritakan tentang peristiwa yang pernah terjadi di Majalengka sejak abad 13 hingga 18.

Nana Rohmana Ketua Grumala (Gruop Madjalengka Baheula) ikut terlibat langsung dalam pembuatan Taman Sejarah itu menerangkan, relief raksasa itu dibuat oleh 2 pemahat asal Majalengka dan Jepara, Jawa Tengah.

"Yang buat relief pemahat orang Majalengka dari Lengkong Sindangwangi dan Jepara. Relief panjangnya 30 meter, tinggi 4 meter," ucap pria yang akrab disapa Naro belum lama ini.

Catatan ketika berkuasanya  Kolonial Belanda di Majalengka. Kolonial Belanda membangun pabrik gula di Kadipaten dan Jatiwangi yang terdapat juga pesta panen tebu atau badirian, ada dermaga Sungai Cimanuk sekitar tahun 1860Tak hanya memperindah Taman Sejarah di Majalengka, keberadaan relief itu juga memberikan informasi mengenai peristiwa penting yang pernah terjadi di kabupaten tersebut (Foto: Bima Bagaskara/detikcom)

Naro mengatakan untuk reliefnya mengusung konsep sejarah Majalengka dari mulai masa klasik kerajaan Talaga di abad 13 sampai zaman Belanda di abad 18. Relief tersebut kata dia juga terbagi dalam 6 fragmen.

Fragmen pertama, menceritakan tentang masa Kerajaan Talaga sebagai salah satu kerajaan besar yang tercatat dalam naskah tua Bujangga Manik.

"Di relief tersebut dikisahkan masa kekuasaan seorang Ratu Talaga Nyi Mas Simbar Kancana dan penggambaran kehidupan rakyatnya yang bercocok tanam. Juga terdapat peninggalannya seperti gong Renteng dan meriam Cetbang," ujarnya.

Untuk fragmen kedua, berkisah masa perjuangan Ki Bagus Rangin sebagai tokoh pahlawan dari Majalengka. Kemudian fragmen ketiga menceritakan tentang pembentukan Kabupaten Maja pada 5 Januari 1819 yang menjadi cikal bakal Kabupaten Majalengka saat ini.

Sementara fragmen keempat menggambarkan bagaimana suasana perpindahan Pemerintahan Kabupaten Maja ke Sindangkasih tahun 1840.

"Fragmen lima, masa Bupati Majalengka ke 2 yang dijabat oleh RAA Kertadiningrat dimana terjadi peristiwa penting yaitu dibangunnya pendopo Majalengka yg dirancang oleh pelukis kelas dunia Raden Saleh dan sempat juga melukis bupati RAA Kertadiningrat," ucap Naro.

"Keenam, masa pembangunan infrastruktur Kolonial Belanda diantaranya pabrik gula Kadipaten dan Jatiwangi yang terdapat juga pesta panen tebu atau badirian, ada dermaga Sungai Cimanuk sekitar tahun 1860," ujar Naro menambahkan.

Catatan ketika berkuasanya  Kolonial Belanda di Majalengka. Kolonial Belanda membangun pabrik gula di Kadipaten dan Jatiwangi yang terdapat juga pesta panen tebu atau badirian, ada dermaga Sungai Cimanuk sekitar tahun 1860Catatan ketika berkuasanya Kolonial Belanda di Majalengka. Kolonial Belanda membangun pabrik gula di Kadipaten dan Jatiwangi yang terdapat juga pesta panen tebu atau badirian, ada dermaga Sungai Cimanuk sekitar tahun 1860 Foto: Bima Bagaskara/detikcom

Pada relief itu juga terdapat gugunungan setinggi 7 meter. Gugunungan yang biasa dilihat pada dunia perwayangan ini memiliki makna tersendiri di Taman Sejarah Majalengka ini.

Menurut Naro, gugunungan tersebut memiliki arti bahwa di taman sejarah sedang diceritakan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di Majalengka pada zaman dulu.

"Gugunungan itu artinya bahwa disitu sedang menceritakan peristiwa peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu Majalengka. Selain itu gugunungan tersebut juga menggambarkan bahwa orang yang berada dibawahnnya dilambangkan sebagai makhluk yang tak berdaya. Jadi ada seseuatu zat yang besar dan mengatur kehidupan mereka di atas," pungkasnya.

(yum/yum)