Produsen Sampo-Minyak Rambut Palsu Digerebek, Pria Tangerang Diamankan

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Jumat, 31 Des 2021 18:45 WIB
Gudang produksi sampo palsu di Banten digerebek polisi (Foto: Dok Polda Banten)
(Foto: Gudang produksi sampo palsu di Banten digerebek polisi (Foto: Dok Polda Banten)
Serang -

Pria inisial HL (28) asal Medan ditangkap oleh Krimsus Polda Banten karena telah memproduksi dan menjual sampo-minyak rambut diduga palsu. Pria ini meraup Rp 200 juta per bulan dan memproduksi sampo saset untuk dijual ke masyarakat.

"Barang-barang yang diduga palsu berupa sampo, minyak rabut. Barang-barang tersebut setelah kita dalami dan lakukan pemeriksaan ahli, barang-barang itu tidak sesuai komposisi maupun kandungan di dalamnya. Kita menangkap satu aktor intelektual," kata Dirkrimsus Polda Banten Kombes Dedi Supriyadi di Polda Banten, Jumat (31/12/2021).

Ditambahkan Kasubdit I Indag Ditkrimsus Kompol Chandra Sasonko, pelaku ditangkap pada Selasa (28/12) di Pakuhaji, Kabupaten Tangerang. Pelaku sudah memalsukan sampo-minyak rambut sejak 3 tahun lalu dan selalu berpindah-pindah tempat.

Dalam sebulan, ia bisa mendapatkan keuntungan Rp 200 juta dan memberi gaji karyawan Rp 15 juta per bulan. Sampo-minyak rambut yang diproduksi dan dipalsukan adalah merek ternama yang biasa beredar di masyarakat. Penjualan oleh pelaku bahkan sampai Palembang dan Lampung.

"Keuntungan Rp 200 juta per bulan sehingga dia bisa membayar karyawan Rp 15 juta per orangnya. Pemasaran di Banten, Lampung, Palembang dikirim melalui ekspedisi," ujarnya.

Di gudangnya, pelaku juga memiliki mesin otomatis penyetakan sasetan sampo dan minyak rambut. Pengakuan tersangka, ia belajar melalui internet seperti Google dan Youtube. Pelaku juga menggunakan bahan sendiri dengan komposisi bahan kimia termasuk pewarna makanan.

"Jadi dia awalnya belajar dari Google dan Youtube, kemudian dia variasi sendiri, mengajari orang cara membuatnya seperti ini," katanya.

Berdasarkan keterangan tersangka, pelaku menjual sasetan barang palsu ini dengan target masyarakat bawah. "Ini dijual di warung-warung, informasi dari pelaku menjangkau masyarakat bawah," pungkasnya.

Pelaku diancam Pasal 60 dan atau Pasal 62 UU Cipta Kerja dan Pasal 8 atau 9 UU tentang Perlindungan Konsumen. Ancaman atas perbuatan pelaku penjara 15 tahun dan denda Rp 1,5 miliar.

(bri/mud)